Mamah Dedeh dan Islam Nusantara

Orang Jepang, sependek pengalaman saya pernah berinteraksi dengan mereka, sangat susah mengucapkan kata-kata yang diawali maupun diakhiri dengan huruf “L”. Huruf ini selalu terucapkan atau setidaknya terdengar oleh telinga saya sebagai “R”. Ketika mengucapkan “action plan”, misalnya, terdengar sebagai “aksyong prang”, bukan “eksyen plen”. Padahal si pengucap ini orang Jepang yang lancar berbahasa Inggris. Oleh karena itu saya sangat kagum dengan upaya sungguh-sungguh dari dua mualaf Jepang ini dalam mengucapkan dua kalimat syahadat dalam Bahasa Arab dengan fasih: melafalkan “L” sebagai “L”, bukan “R” (lihat video berikut: https://www.youtube.com/watch?v=bsdsVQXTJmM ). Bagaimana tidak sungguh-sungguh, wong Kyai Said Aqil Siradj yang membimbing kedua saudara kita ini bersyahadat, sudah memberikan wejangan bahwa Quran itu satu, di manapun tak ada perbedaan dan selama 15 abad tak pernah berubah, adzan itu di mana-mana sama, cara salat juga sama, dan tentu saja cara bersyahadat juga harus sama. Continue reading “Mamah Dedeh dan Islam Nusantara”

Advertisements