Alquran dan Skripsi Mahasiswa Teknik

Meskipun dalam berbahasa—bahasa apapun: entah Arab, Inggris, Indonesia, atau Jawa—tersedia makna konotatif, kata-kata tertentu yang memiliki lebih dari satu makna, atau berbagai gaya bahasa majazi yang membuat berbahasa menjadi indah, dalam sebuah skripsi sarjana teknik semua itu haram digunakan, kecuali mungkin di bagian kata-kata mutiara atau ucapan terima kasih. Continue reading “Alquran dan Skripsi Mahasiswa Teknik”

Hudaibiyah

“Saya sungguh jengkel dengan ulama-ulama kita. Mereka tidak tegas dengan penista agama. Bukannya mengutuk, malah meminta umat Islam memaafkannya. Mbah Kyai Maimoen Zubair menyuruh kita tidak memperpanjang perkara karena si penista sudah meminta maaf, Muhammadiyah berlepas diri dengan melarang atribut dan simbol organisasi itu dibawa-bawa saat demo 4 November nanti, NU malah melarang underbouw-underbouwnya untuk ikut serta dalam demo bela Islam itu. Semuanya meminta menjaga kedamaian dan keutuhan NKRI, menyerahkan urusan pada yang berwenang, tetapi menomorsekiankan kehormatan Islam dan ukhuwah Islamiyah. Saya tidak menemukan ghirah Islam pada ulama-ulama kita itu. Saya sangat jengkel dan kecewa.” Continue reading “Hudaibiyah”

Maaf di Idul Fitri, Haruskah?

Sepanjang pengetahuan penulis yang amat pendek dan terbatas ini, tidak ada perintah Al-Quran maupun hadits untuk secara khusus meminta maaf di Hari Raya Idul Fitri. Alih-alih perintah untuk meminta maaf, yang dapat dijumpai di Al-Quran adalah anjuran untuk memberi maaf, tetapi itu pun—sekali lagi—tidak spesial untuk Idul Fitri. Continue reading “Maaf di Idul Fitri, Haruskah?”

Tikus

Pagi tadi istri saya melaporkan perkembangan kenakalan si tikus. Ya, tikus dalam makna yang sebenar-benarnya, bukan tikus yang dimaksud Iwan Fals dalam Tikus-tikus Kantor. Dalam pesan pendeknya, ia menceritakan bagaimana tikus mulai menggerogoti saringan pembuangan bak cuci piring di dapur kami. Kok bisa mamalia pengerat itu melewati pipa buangan yang kecil dan berkelok-kelok sebelum akhirnya mengerat tutup sekaligus saringan bak cuci piring. Benar-benar hewan yang cerdas dan menyebalkan. Continue reading “Tikus”

Ihsan

Untuk anak laki-laki, dua ekor kambing. Untuk anak perempuan, cukup seekor kambing saja. Begitulah akikah yang dianjurkan ketika anak manusia lahir.

Si Hasan, sebut saja begitu, sangat bersemangat mengkritik anjuran tersebut. Dengan akikah 2 ekor kambing, katanya, anak laki-laki lebih dihargai daripada anak perempuan yang diakikahi hanya dengan seekor kambing. Perlakuan lebih terhadap anak laki-laki ini merupakan cerminan ketidakadilan jender pada budaya Arab jahiliyah yang masih tersisa dalam Islam. Islam sebenarnya hadir untuk mengubah struktur yang tidak adil ini secara gradual namun pasti. Banyak ayat-ayat Quran atau hadits Nabi yang menyuarakan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Kita semestinya bergerak ke arah sana, meneruskan proses perubahan yang belum selesai, bukan berhenti dengan menuhankan aturan-aturan. Seperti kata Bung Karno, kita harus ambil apinya, jangan abunya. Continue reading “Ihsan”

Arjuna

Pagi itu Arjuna termenung sendiri di atas ranjangnya. Di balik perban putih, tersembunyi wajahnya yang memancarkan duka demi duka. Rumah sakit mewah dengan segala fasilitas yang memanjakannya tak mampu sedikit pun membuatnya bahagia. Suster-suster dianggapnya terlalu cerewet; mereka sering berlama-lama waktu menyuntik, ia curiga bahwa itu semua mereka lakukan untuk melihat sisa-sisa keseksian yang masih terlihat di bokongnya. Dokter yang merawatnya dianggap tak berperasaan, terlalu dingin, dan memperlakukannya sebagaimana seorang montir memperbaiki mesin. AC rumah sakit  sering membuatnya menggigil kedinginan, tapi begitu dimatikan, ia merasa kegerahan. Pendeknya, semua serba tak mengenakkan baginya. Continue reading “Arjuna”