Bahasa dan Keadilan dan Kecerdasan Pikiran

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”, demikian kurang lebih pesan yang ditujukan kepada Minke, tokoh utama dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Berangkat dari pesan yang amat berat untuk dilaksanakan ini, mari menelanjangi bahasa yang biasa kita pakai. Apakah bahasa tersebut, kata-kata yang acap kita gunakan, sudah cukup membuat pikiran kita lumayan adil? Sebab bahasa tidak hanya menjadi alat untuk menyatakan isi pikiran, tetapi ia juga turut membentuk pikiran itu sendiri. Continue reading “Bahasa dan Keadilan dan Kecerdasan Pikiran”

Advertisements

Kentut

Kentut, begitulah angin yang keluar dari sela-sela pantat ini lazim disebut. Oleh banyak orang ia dianggap menjijikkan. Ia bisa tidak berbau, sekaligus bisa berbau sangat busuk, tergantung dari situasi dan kondisi perut. Tapi yang jelas belum pernah terdengar ada kentut yang berbau harum. Meski dianggap menjijikkan, ia adalah kewajiban-kodrati setiap manusia, tanpa pandang bulu yang mana pun. Meski tidak diberitakan dalam acara-acara infotaintment dan gosip di tipi-tipi dan tidak pernah dimunculkan di media-media (a)sosial, para selebritis yang cantik-cantik dan tampan-tampan itu pasti pernah kentut juga. Dan gara-gara nggak bisa kentut, tetangga saya di kampung menjual sawahnya untuk berobat. Jadi di samping kewajiban-kodrati, kentut juga merupakan kebutuhan asasi.
Continue reading “Kentut”

NKRI Harga Mati. Agama Harga Nego?

Akhir-akhir ini NU begitu getol kembali berteriak NKRI harga mati. Ketika yang lain sibuk mengkampanyekan kebebasan harga mati, pluralisme harga mati, Hak Asasi Manusia (HAM) harga mati, antikorupsi harga mati, keadilan sosial harga mati, syariat harga mati, atau khilafah harga mati, NU begitu keras kepala dan kampungan dengan teriakan usang, itu-itu saja, sejak jaman empat lima: NKRI harga mati. Tidak hanya di media massa dan media sosial, NKRI harga mati juga diterakkan di pengajian-pengajian di desa-desa, oleh kyai dan santri kampung, juga oleh ibu-ibu muslimat dan fatayat sambil menyusui bayi. Continue reading “NKRI Harga Mati. Agama Harga Nego?”

Lelaki Malang

Jasad lelaki itu tergeletak begitu saja sejak kematiannya, dua hari sebelumnya. Kerabatnya tak ada yang berani mengubur. Ketika beberapa orang hendak menyalati, sontak sekelompok orang yang lain melarang. Jasadnya tidak boleh disalati, pun tak boleh dimakamkan di pekuburan kaum muslimin. Ketika pihak keluarga berusaha membawa jasad itu ke pemakaman muslimin, orang-orang di sepanjang jalan melempari mereka dengan batu. Tidak hanya itu, akses menuju pemakaman diblokade. Continue reading “Lelaki Malang”

Tikus

Pagi tadi istri saya melaporkan perkembangan kenakalan si tikus. Ya, tikus dalam makna yang sebenar-benarnya, bukan tikus yang dimaksud Iwan Fals dalam Tikus-tikus Kantor. Dalam pesan pendeknya, ia menceritakan bagaimana tikus mulai menggerogoti saringan pembuangan bak cuci piring di dapur kami. Kok bisa mamalia pengerat itu melewati pipa buangan yang kecil dan berkelok-kelok sebelum akhirnya mengerat tutup sekaligus saringan bak cuci piring. Benar-benar hewan yang cerdas dan menyebalkan. Continue reading “Tikus”

Arjuna

Pagi itu Arjuna termenung sendiri di atas ranjangnya. Di balik perban putih, tersembunyi wajahnya yang memancarkan duka demi duka. Rumah sakit mewah dengan segala fasilitas yang memanjakannya tak mampu sedikit pun membuatnya bahagia. Suster-suster dianggapnya terlalu cerewet; mereka sering berlama-lama waktu menyuntik, ia curiga bahwa itu semua mereka lakukan untuk melihat sisa-sisa keseksian yang masih terlihat di bokongnya. Dokter yang merawatnya dianggap tak berperasaan, terlalu dingin, dan memperlakukannya sebagaimana seorang montir memperbaiki mesin. AC rumah sakit  sering membuatnya menggigil kedinginan, tapi begitu dimatikan, ia merasa kegerahan. Pendeknya, semua serba tak mengenakkan baginya. Continue reading “Arjuna”