NKRI Harga Mati. Agama Harga Nego?

Akhir-akhir ini NU begitu getol kembali berteriak NKRI harga mati. Ketika yang lain sibuk mengkampanyekan kebebasan harga mati, pluralisme harga mati, Hak Asasi Manusia (HAM) harga mati, antikorupsi harga mati, keadilan sosial harga mati, syariat harga mati, atau khilafah harga mati, NU begitu keras kepala dan kampungan dengan teriakan usang, itu-itu saja, sejak jaman empat lima: NKRI harga mati. Tidak hanya di media massa dan media sosial, NKRI harga mati juga diterakkan di pengajian-pengajian di desa-desa, oleh kyai dan santri kampung, juga oleh ibu-ibu muslimat dan fatayat sambil menyusui bayi. Continue reading “NKRI Harga Mati. Agama Harga Nego?”

Advertisements

Alquran dan Skripsi Mahasiswa Teknik

Meskipun dalam berbahasa—bahasa apapun: entah Arab, Inggris, Indonesia, atau Jawa—tersedia makna konotatif, kata-kata tertentu yang memiliki lebih dari satu makna, atau berbagai gaya bahasa majazi yang membuat berbahasa menjadi indah, dalam sebuah skripsi sarjana teknik semua itu haram digunakan, kecuali mungkin di bagian kata-kata mutiara atau ucapan terima kasih. Continue reading “Alquran dan Skripsi Mahasiswa Teknik”

Hudaibiyah

“Saya sungguh jengkel dengan ulama-ulama kita. Mereka tidak tegas dengan penista agama. Bukannya mengutuk, malah meminta umat Islam memaafkannya. Mbah Kyai Maimoen Zubair menyuruh kita tidak memperpanjang perkara karena si penista sudah meminta maaf, Muhammadiyah berlepas diri dengan melarang atribut dan simbol organisasi itu dibawa-bawa saat demo 4 November nanti, NU malah melarang underbouw-underbouwnya untuk ikut serta dalam demo bela Islam itu. Semuanya meminta menjaga kedamaian dan keutuhan NKRI, menyerahkan urusan pada yang berwenang, tetapi menomorsekiankan kehormatan Islam dan ukhuwah Islamiyah. Saya tidak menemukan ghirah Islam pada ulama-ulama kita itu. Saya sangat jengkel dan kecewa.” Continue reading “Hudaibiyah”

Maaf di Idul Fitri, Haruskah?

Sepanjang pengetahuan penulis yang amat pendek dan terbatas ini, tidak ada perintah Al-Quran maupun hadits untuk secara khusus meminta maaf di Hari Raya Idul Fitri. Alih-alih perintah untuk meminta maaf, yang dapat dijumpai di Al-Quran adalah anjuran untuk memberi maaf, tetapi itu pun—sekali lagi—tidak spesial untuk Idul Fitri. Continue reading “Maaf di Idul Fitri, Haruskah?”

Ihsan

Untuk anak laki-laki, dua ekor kambing. Untuk anak perempuan, cukup seekor kambing saja. Begitulah akikah yang dianjurkan ketika anak manusia lahir.

Si Hasan, sebut saja begitu, sangat bersemangat mengkritik anjuran tersebut. Dengan akikah 2 ekor kambing, katanya, anak laki-laki lebih dihargai daripada anak perempuan yang diakikahi hanya dengan seekor kambing. Perlakuan lebih terhadap anak laki-laki ini merupakan cerminan ketidakadilan jender pada budaya Arab jahiliyah yang masih tersisa dalam Islam. Islam sebenarnya hadir untuk mengubah struktur yang tidak adil ini secara gradual namun pasti. Banyak ayat-ayat Quran atau hadits Nabi yang menyuarakan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Kita semestinya bergerak ke arah sana, meneruskan proses perubahan yang belum selesai, bukan berhenti dengan menuhankan aturan-aturan. Seperti kata Bung Karno, kita harus ambil apinya, jangan abunya. Continue reading “Ihsan”