Ada Apa dengan 12 Rabiul Awal?

Sebuah infografis muncul dalam sebuah grup whatsapp yang saya ikuti. Diawali dengan pertanyaan “Ada apa dengan 12 Rabi’ul Awwal?”, infografis tersebut kemudian menceritakan Sayyidina Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan lain-lain yang menangis sedih karena wafatnya Baginda Nabi. Lalu ada pertanyaan lanjutannya: “Lalu pantaskah engkau berbahagia?”. Saya pun tertarik menanggapi pertanyaan-pertanyaan ini. Biasanya, sebagaimana pengalaman pribadi saya, pencetus pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan dinilai kritis, ilmiah, dan nyunnah, sementara yang menanggapi akan segera mendapat nasihat: jangan terlalu mendiskusikan hukum Islam dan hal-hal furu’iyah lainnya. Baiklah. Continue reading “Ada Apa dengan 12 Rabiul Awal?”

Advertisements

Mamah Dedeh dan Islam Nusantara

Orang Jepang, sependek pengalaman saya pernah berinteraksi dengan mereka, sangat susah mengucapkan kata-kata yang diawali maupun diakhiri dengan huruf “L”. Huruf ini selalu terucapkan atau setidaknya terdengar oleh telinga saya sebagai “R”. Ketika mengucapkan “action plan”, misalnya, terdengar sebagai “aksyong prang”, bukan “eksyen plen”. Padahal si pengucap ini orang Jepang yang lancar berbahasa Inggris. Oleh karena itu saya sangat kagum dengan upaya sungguh-sungguh dari dua mualaf Jepang ini dalam mengucapkan dua kalimat syahadat dalam Bahasa Arab dengan fasih: melafalkan “L” sebagai “L”, bukan “R” (lihat video berikut: https://www.youtube.com/watch?v=bsdsVQXTJmM ). Bagaimana tidak sungguh-sungguh, wong Kyai Said Aqil Siradj yang membimbing kedua saudara kita ini bersyahadat, sudah memberikan wejangan bahwa Quran itu satu, di manapun tak ada perbedaan dan selama 15 abad tak pernah berubah, adzan itu di mana-mana sama, cara salat juga sama, dan tentu saja cara bersyahadat juga harus sama. Continue reading “Mamah Dedeh dan Islam Nusantara”

Makan Dulu atau Salat Dulu?

Gambar: http://www.dailymoslem.com

Pernahkah Anda dihadapkan pada pilihan mendahulukan makan atau mendahulukan salat? Bagi orang kantoran, pilihan ini biasanya muncul saat istirahat siang: waktunya makan, waktunya salat zuhur juga. Pilihan tersebut memang terkadang terasa dilematis. Mendahulukan makan berarti menomorduakan salat. Makan adalah perbuatan duniawi, profan, sementara salat adalah ibadah ukhrawi, perintah Allah. Masak perintah Allah harus ditundukkan oleh kebutuhan duniawi? Tetapi kalau pilihannya salat dulu, pikiran bisa melayang ke makanan mulai dari saat takbiratul ihram sampai salam. Continue reading “Makan Dulu atau Salat Dulu?”

Takdir

سوابق الهمم لا تخرق أسوار الأقدار

“Betapapun kuat keinginan, betapapun keras upaya, tak akan mampu menembus tembok takdir.” [Imam Ibnu Atha’illah]

Waktu dan Suratan Takdir

Di bagian akhir film Looper, Joe tua (Bruce Willis) yang berasal dari masa depan sebenarnya hampir berhasil membunuh Cid, bocah kecil masa kini yang kelak di masa depan akan menjadi seorang pembunuh terkenal dengan sebutan Rainmaker. Continue reading “Takdir”

Tajrid

ارادتك التجريد مع اقامة الله اياك في الأسباب من الشهوة الخفيّة. وارادتك الأسباب مع اقامة الله اياك في التجريد انحطاط عن الهمّة العليّة

“Kehendakmu untuk tajrid (mengisolir diri, tidak melakukan usaha), sementara Tuhan menempatkanmu pada maqam seorang yang harus berusaha, itu adalah sebentuk syahwat atau kesenangan nafsu yang tersembunyi. Sebaliknya, kehendakmu untuk ikut-ikutan berusaha, padahal Tuhan memberimu maqam sebagai orang yang seharusnya tajrid, itu adalah sebentuk kemerosotan kelas.” (Imam Ibnu Atha’illah) [1] Continue reading “Tajrid”

Mengandalkan Kebaikan, Mengabaikan Tuhan

 من علامة الاعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل

“Salah satu tanda seseorang mengandalkan amal kebaikannya adalah berkurangnya pengharapan (kepada Tuhan) saat terwujud kesalahan (pada dirinya).” (Imam Ibnu Atha’illah)

 ***

Tuhan dilupakan pada saat orang sibuk bekerja atau saat kondisi mujur dan bahagia, tetapi diingat dengan penuh pengharapan pada saat dilanda duka nestapa adalah hal yang lumrah selumrah-lumrahnya. Ada sebuah anekdot tentang golongan yang layak masuk surga paling awal. Ternyata yang layak masuk surga lebih awal bukanlah ustadz, tetapi supir bus yang ugal-ugalan. Dibanding ustadz, supir bus ugal-ugalan ternyata lebih bisa membuat para penumpangnya takut setengah mati lalu merasa sangat butuh Tuhan. Continue reading “Mengandalkan Kebaikan, Mengabaikan Tuhan”

Hikam (Sebuah Pengantar)

Dua puluh tahunan yang lalu, Ahad adalah saat Al-Hikam bagi kami. Selepas Subuh, paman memboncengkan saya di atas sepeda anginnya. Kami meluncur menuju masjid pesantren. Di sana para santri sudah siap menunggu paman membaca dan mengulas mutiara-mutiara hikmah Imam Ibnu Atha’illah As-Sakandari (w. 709 H), seorang mursyid Tarekat Syadziliyyah. Saya termasuk santri yang kurang ajar: tidak perlu menunggu, malah diboncengkan. Kitab ajar yang dijadikan acuan dan diberi catatan oleh para santri adalah Syarh Al-Hikam karya Imam Asy-Syarqawi (w. 1227 H), dengan sesekali mengutip juga syarh Al-Hikam yang lebih panjang karya Imam Ibnu ‘Abbad Ar-Rundi (w. 792 H). Continue reading “Hikam (Sebuah Pengantar)”