Ada Apa dengan 12 Rabiul Awal?

Sebuah infografis muncul dalam sebuah grup whatsapp yang saya ikuti. Diawali dengan pertanyaan “Ada apa dengan 12 Rabi’ul Awwal?”, infografis tersebut kemudian menceritakan Sayyidina Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan lain-lain yang menangis sedih karena wafatnya Baginda Nabi. Lalu ada pertanyaan lanjutannya: “Lalu pantaskah engkau berbahagia?”. Saya pun tertarik menanggapi pertanyaan-pertanyaan ini. Biasanya, sebagaimana pengalaman pribadi saya, pencetus pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan dinilai kritis, ilmiah, dan nyunnah, sementara yang menanggapi akan segera mendapat nasihat: jangan terlalu mendiskusikan hukum Islam dan hal-hal furu’iyah lainnya. Baiklah.

WhatsApp Image 2018-11-16 at 16.56.29

Ada banyak pendapat sejarawan mengenai tanggal lahir dan wafat Baginda Nabi. Masing-masing memiliki tingkat pengakuan dan akurasi yang berbeda-beda. Tanggal pastinya tidak bisa ditentukan secara eksak sebagaimana tanggal kelahiran dan kematian orang-orang modern: tercatat di rumah sakit, ada akte kelahiran/kematian, bahkan ada yang dilengkapi rekaman video detik-detik kelahiran. Untungnya, kepastian tanggal tersebut tidak menjadi salah satu rukun iman. Mencari kepastian tanggal tersebut juga tidak menjadi perintah syar’i. Yang diperintahkan adalah bersyukur atas kelahiran Baginda Nabi dan meneladani akhlak mulia beliau.

Tanggal Lahir Baginda Nabi

Semua ulama dan sejarawan bersepakat bahwa Baginda Nabi lahir pada hari Senin. Tanggalnya? Ada bermacam-macam pendapat.

Ibnu Katsir (1301-1372) dalam Al-Bidayah wan Nihayah (juz III, halaman 31-32) menyampaikan beberapa pendapat sejarawan tentang tanggal lahir Baginda Nabi. Ada yang menyebut 2 Rabiul Awal, 8 Rabiul Awal, 10 Rabiul Awal, 12 Rabiul Awal, dan 17 Rabiul Awal. Bahkan ada yang berpendapat sangat aneh: 12 Ramadan. Pendapat paling terkenal dan paling diikuti oleh mayoritas sejarawan adalah pendapat Ibnu Ishaq (704-768) yang menyatakan bahwa Baginda Nabi lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal pada tahun penyerangan Ka’bah oleh pasukan bergajah.

Belakangan ada pendapat lain. Berdasarkan perhitungan astronomis, seorang ahli ilmu falak Mesir, Mahmud Basya (w.1885), menyatakan bahwa Baginda Nabi tidak dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul Awal, tetapi 9 Rabiul Awal, bertepatan dengan tanggal 20 April 571. Pendapat saintifik ini setidaknya diikuti oleh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahiqul Makhtum yang terkenal itu.

Baik tanggal 12 maupun 9 Rabiul Awal, menurut hemat saya, keduanya harus didukung. Karena tanggal 12 Rabiul Awal sudah diperingati secara resmi oleh banyak negara muslim sebagai hari lahir Baginda Nabi, maka dukungan lebih harus diberikan kepada tanggal 9 Rabiul Awal agar mendapat perlakuan sama. Dengan demikian akan semakin banyak hari khusus untuk memperingati dan mensyukuri kelahiran Nabi. Lebih baik lagi kalau dengan pertimbangan ini libur nasional Maulid Nabi bisa ditambah. Amin.

Hari Wafat Baginda Nabi

Masih menurut Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (kali ini pada juz V halaman 358-361), yang disepakati oleh para ulama dan sejarawan muslim adalah bahwa Baginda Nabi wafat pada hari Senin, bulan Rabiul Awal, pada tahun kesebelas pascahijrah. Untuk tanggalnya ada beberapa pendapat: tanggal 1, tanggal 2, dan tanggal 12. Yang paling terkenal dan paling banyak diikuti adalah tanggal 12 Rabiul Awal. Tanggal ini adalah pendapat Ibnu Ishaq dan Al-Waqidi berdasarkan berita yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah r.a. dan Sayyidina Ibnu Abbas r.a.

Meskipun demikian, pendapat tanggal 12 Rabiul Awal sebagai hari wafat Nabi bukannya tanpa kritik. Abul Qasim As-Suhaili (1114-1185), salah seorang sejarawan pengulas Sirah Nabawiyah-nya Ibnu Ishaq, menyatakan tidak mungkin Baginda Nabi wafat pada 12 Rabiul Awal. Menurutnya, jika Nabi diketahui melakukan wuquf haji Wada’ pada hari Jumat tahun ke-10 Hijriyah, maka tanggal 1 Dzulhijjah (bulan ke-12, bulan terakhir) tahun itu jatuh pada hari Kamis. Berdasarkan hal ini, perhitungan selanjutnya menunjukkan tanggal 12 Rabiul Awal (bulan ketiga tahun berikutnya) tidak jatuh pada hari Senin. Ini menyalahi fakta bahwa Nabi lahir di hari Senin. Jika ingin konsisten dengan fakta ini, tanggal wafat Nabi seharusnya 13 Rabiul Awal.

Ibnu Katsir menghadapi kritik ini menggunakan teori perbedaan mathla’ (zonasi penanggalan Hijriyah). Bisa jadi tanggal 1 Dzulhijjah pada tahun ke-10 Hijriyah antara Mekah (tempat wuquf) dan Medinah (tempat Nabi wafat) berbeda. Jika hari Kamis Mekah sudah memasuki 1 Dzulhijjah, Madinah baru memasukinya sehari kemudian. Wajar jika hari Senin saat Nabi wafat, Medinah baru masuk tanggal 12 Rabiul Awal.

Maulid Nabi: Bergembira Atas Kematian?

Secara bahasa maulid, milad, maulud, atau muludan selalu berkaitan dengan kelahiran, bukan kematian. Ucapan populer seperti “Met milad, ya!” jelas merupakan ucapan selamat atas hari kelahiran, bukan doa kematian. Idul Milad adalah ungkapan Arab untuk Hari Raya Natal, hari raya yang dikaitkan dengan kelahiran Nabi Isa. Mungkin karena milad identik dengan Idul Milad, maka untuk kelahiran Nabi Muhammad tidak disebut Milad Nabi (Hari Lahir Nabi), tetapi Maulid Nabi (juga berarti Hari Lahir Nabi). Penggunaan istilah maulud (Jawa: mulud) yang berarti bayi yang baru dilahirkan secara tidak langsung juga menunjukkan peringatan terhadap peristiwa kelahiran. Maulid, selain berarti hari lahir, juga menunjukkan kumpulan syair tentang kisah kelahiran dan kehidupan Nabi serta selawat untuk beliau.

Itu soal bahasa. Praktik di lapangan kehidupan juga menunjukkan demikian. Sepanjang pengalaman, saya tidak pernah sekalipun menemukan orang atau kelompok yang merayakan Maulid Nabi dengan niat berbahagia atas wafatnya Baginda Nabi.

Kalau urusannya soal tanggal lahir yang dianggap salah, silakan diluruskan. Para praktisi Maulid Nabi insyaallah akan dengan senang hati diajak memperingati Hari Lahir Nabi di hari selain 12 Rabiul Awal. Lha wong baru menjelang Rabiul Awal atau selepasnya pun banyak yang memperingati Maulid Nabi. Dan jangan salah, jauh di luar bulan Rabiul Awal, Maulid Nabi juga sering diperingati melalui pembacaan aneka maulid: Barzanjii, Diba’i, Simthut Durar, …

Senyum Dulu, Dong: Selimut Nabi Bergambar Apa?

Pada sebuah Maulid Nabi, seorang ustaz menceritakan kisah hidup dan perjuangan Kanjeng Nabi kepada murid-murid kecilnya. Salah satu fase yang dikisahkan adalah perintah untuk berdakwah secara terbuka sebagaimana tertulis dalam Surat Al-Muddatsir.

Yaa ayyuhal muddatsir, wahai yang berselimut!”

Qum fa andzir, bangun dan berilah peringatan!”

Seorang anak bertanya: “Nabi Muhammad selimutnya gambar apa?”

Demikianlah, empat tahunan yang lalu, sambil terkekeh-kekeh anak saya menceritakan pengalaman Maulid Nabi di sekolahnya. Betapa pentingnya gambar yang ada di selimut Kanjeng Nabi bagi anak itu.

#happy_Maulid_Nabi

Referensi:

  1. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah (Beirut: Dar Ibn Katsir, 2010).
  2. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiqul Makhtum (Benares: Dar Ihya’ Turats, 1976)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s