Kwie Tiau

Ini lelucon lama. Entah siapa yang kali pertama membuat, tapi saya mewarisinya dari ayah saya, lalu sedikit memodifikasinya. Ya, inilah lelucon tentang lelaki peranakan Cina yang menjadi mualaf. Namanya Kwie Tiau.

Pagi itu Kwie Tiau memulai hari dengan Salat Subuh berjamaah. Ini Salat Subuh berjamaah pertamanya, Salat Subuh pertamanya, dan juga salat pertamanya. Ia sudah siap lahir dan batin, siap menerima ajaran baru, dan tentu saja siap dengan pakaian sembahyang: peci, baju koko, sarung, tidak mengenakan celana pendek atau celana dalam. Orang-orang, demi menjaga diri agar tak memakai pakaian yang terkena najis, terbiasa mencopot celana pendek atau celana dalam dan menaruh di pojok langgar. Mereka mengenakan sarung saja, tanpa dalaman. Dan sebagai pendatang baru, Kwie Tiau mengikuti saja kebiasaan itu.

Kyai Brodin, sang imam langgar, dan jamaah lainnya begitu sumringah menyambut Kwie Tiau. Satu persatu mereka menyalaminya dengan hangat. Sebelumnya mereka memang pernah beberapa kali bahagia menerima anggota baru. Mereka bahagia menerima Paimo, Paijo, atau Parmin saat kali pertama nyantri, menjalankan salat setelah sebelumnya tak pernah melakukannya, meskipun beragama Islam. Tapi kali ini mereka lebih berbahagia. Ini Kwie Tiau yang menjadi mualaf!

Anak-anak juga sangat bahagia. Mereka rela menahan kantuk demi Salat Subuh berjamaah dengan Kwie Tiau. Tapi bukan rasa bahagia yang mendorong mereka menjadi pejuang Subuh, tetapi rasa penasaran: apakah Kwie Tiau sudah disunat? Kalau yang menjadi santri baru Si Paimo, Paijo, atau Parmin mereka tidak penasaran. Meski tak pernah mengerjakan salat atau puasa, mereka yang sudah tua-tua itu pasti telah disunat.

“Posisi sampeyan pas di belakang saya saja. Ikuti apa saja yang saya dan jamaah lain lakukan”, Kyai Brodin memberikan petunjuk sederhana Salat Subuh berjamaah kepada Kwie Tiau.

“Saya perlu membaca apa, Pak Kyai?”

“Ah, kalau belum bisa, sampeyan diam mendengarkan saja tak apa-apa. Yang penting sampeyan terus belajar. Islam itu mudah, kok.”

Jamaah membentuk dua barisan. Barisan pertama orang-orang tua, Kwie Tiau ada di tengah-tengah, tepat di belakang Kyai Brodin. Barisan kedua adalah anak-anak: ya, anak-anak yang penasaran.

Salat Subuh pun dimulai. Kwie Tiau mengikuti seluruh rangkaian ibadah dengan khusyuk. Ia benar-benar mematuhi pesan untuk mengikuti setiap gerakan Kyai Brodin dan makmum lainnya. Semua berlangsung dengan lancar hingga saat sujud kedua di rakaat terakhir.

Saat itulah seorang anak yang berada tepat di belakang Kwie Tiau melancarkan aksinya. Tampaknya anak itu ditunjuk oleh teman-temannya untuk memuaskan rasa penasaran.

Semula Kwie Tiau kaget ketika tiba-tiba ada tangan yang dengan cepat menerobos sarung dan memegang zakarnya selama sekira 1 detik, tapi ia segera berpikir itu bagian dari prosesi Salat Subuh berjamaah. Ia harus menirukan. Sambil tetap bersujud, tangannya segera menerobos sarung Kyai Brodin. Ujung jari telunjuknya menyentuh zakar imam salat itu. Kyai Brodin terkejut dan secara spontan kaki kanannya menendang ke belakang, tepat mengenai Kwie Tiau. Mualaf itu segera tanggap. Ia harus menirukan gerakan itu ke arah belakang. Tendangannya mengenai ruang kosong. Anak-anak sudah menyingkir ke belakang. Tampaknya mereka puas karena telah mendapatkan jawaban atas rasa penasaran: Kwie Tiau disunat atau tidak.

Setelah tendangan itu salat berjalan normal dan lancar hingga salam dan wiridan selesai. Kyai Brodin tidak mempersalahkan tindakan Kwie Tiau terhadapnya. Ia malah merasa heran, bersalah, dan malu. Ia heran bagaimana kecoa bisa iseng menerobos sarungnya. Memalukan sekali.

“Maaf ya”, kata Kyai Brodin kepada Kwie Tiau sambil bersalaman seusai salat tanpa menyertakan alasan permintaan maaf. Ia malu untuk berterus terang.

“Tidak apa-apa, Kyai.”

***

Seminggu kemudian, Kyai Brodin wafat.

Dua tahun kemudian. Kwie Tiau telah menjadi dai terkenal. Kenyataan bahwa dia seorang peranakan Cina yang menjadi mualaf begitu memesona ribuan orang jamaahnya. Akun twitternya diikuti jutaan follower.

Ia konsisten mengamalkan Salat Subuh berjamaah seperti Salat Subuh bersama Kyai Brodin dua tahun lalu. Banyak ulama yang mengingatkan bahwa salat seperti itu salah, tapi ia tetap bergeming. Baginya Salat Subuh berjamaah seperti itulah yang paling benar, yang lain salah. Menurutnya Kyai Brodin adalah satu-satunya ulama yang patut dijadikan panutan.

Sementara itu, jamaah dan pengikut Kwie Tiau kian hari kian bertambah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s