Mantenan 4.0

Paimah dan Paiman terlihat sumringah. Duduk di pelaminan yang megah nan indah, senyum mereka terus mengembang tak kunjung lelah. Di samping kanan-kiri mereka, orangtua-orangtua yang berwajah ramah. Begitu ada yang mengucapkan selamat, mereka segera sigap berdiri, tersenyum, lalu membalas: terima kasih, terima kasih.

Para juru kamera terus-menerus mengabadikan momen indah itu secara profesional dan penuh semangat, tidak hanya dalam bentuk foto, tetapi juga video. Video ini kemudian disiarkan secara langsung ke dunia maya melalui aneka media sosial milik Paimah, Paiman, dan para orangtua mereka. Dan tentu saja semua orang, di pojok dunia mana pun, bisa menyaksikan pesta pernikahan mereka, asal terhubung ke jaringan internet: boleh pakai paketan data sendiri, boleh pakai wifi di warung kopi.

Sebulan yang lalu mereka mulai menyebar undangan. Paimah, Paiman, para orangtua, menyampaikan sendiri undangan itu kepada teman, kerabat, dan relasi mereka masing-masing. Tak ada tukang antar undangan yang direpotkan. Tak perlu pemuda-pemuda kampung yang dimintai tolong aterater1, mengantar rantangan makanan, kepada para tetangga dan kerabat sebagai bentuk undangan. Tak ada jomblo yang dibuat baper gara-gara jadi sasaran empuk penitipan undangan dan selalu mendapat pertanyaan menyebalkan setiap kali menyampaikannya: “lha kamu sendiri kapan?”

Mereka tidak hanya menyampaikan undangan tertulis, tetapi juga lisan. Dengan bahasa sopan tertata, pakaian necis, Paimah-Paiman memohon kehadiran teman-teman di pesta perkawinan mereka. Bapak dan Ibu mereka juga melakukan hal yang sama. Sekali lagi, undangan lisan dan tulisan itu disampaikan sendiri secara personal kepada masing-masing teman, kerabat, dan relasi. Tidak hanya sekali, undangan itu disampaikan secara periodik tiap minggu. Mungkin biar yang diundang tidak lupa.

Apakah mereka tidak kelelahan menyampaikan undangan dengan cara seperti itu? Tidak, karena semua disampaikan secara elektronik ke masing-masing alamat email dan akun media sosial para undangan. Mereka hanya perlu membuat undangan dalam bentuk tulisan dan video.

Dan malam itu para undangan memberikan ucapan selamat kepada Paimah dan Paiman. Ada yang ucapannya cuma satu kata: “selamat!”, dua kata: “selamat ya!”, tiga kata: “selamat, semoga samawa2.”, tetapi ada pula mengucapkan ratusan kata mirip cerita pendek atau puisi. Ada yang memberi ucapan sambil nonton film, mendengarkan pengajian, atau lembur di kantor. Tak ada yang perlu beranjak dari aktifitas masing-masing, dandan rapi, atau bahkan ke salon, lalu bermacet-macet ria menuju gedung tempat pesta perkawinan berlangsung. Semua cukup mengakses web atau akun media sosial yang tertera di undangan, pada hari dan jam yang telah ditentukan.

Tak hanya ucapan selamat, para tamu undangan juga memasukkan doa restu (baca: uang) ke kotak sumbangan virtual yang telah disediakan, dengan menggunakan berbagai metode pembayaran digital, dengan berbagai jenis mata uang: konvensional maupun crypto currency. Dan segera setelah itu setiap undangan akan mendapat dua buah voucher digital. Satu voucher dapat ditukar cenderamata di berbagai toko online, voucher yang lain dapat ditukar dengan makanan: bisa dine in di tempat makan tertentu, boleh delivery pakai ojek online. Tentu saja para undangan boleh menggunakan voucher saat itu juga atau di waktu lain sepanjang belum hangus.

Dengan sistem digital seperti ini, tak akan ada cerita tamu undangan yang tidak kebagian cenderamata atau hidangan. Tak ada makanan yang bersisa banyak, mubadzir, karena banyak tamu tak hadir atau hanya titip doa restu. Bukankah mubadzir itu saudaranya setan?

***

Paimah dan Paiman saling mengenal melalui sebuah situs perjodohan online. Situs itu cukup kredibel menjamin bahwa identitas dan spesifikasi yang tercantum di sana sesuai dengan keadaan sebenarnya. Misalnya, dijamin tak ada lelaki jenggotan yang memasang foto gadis cantik sebagai identitasnya. Komunikasi di antara mereka selama ini juga berlangsung melalui dunia maya. Mereka baru kopdar, bertemu di dunia nyata satu hari, pada hari itu juga, hari akad nikah dan pesta perkawinan.

Belum bertemu di dunia nyata, mereka sudah saling mencintai dan berkomitmen untuk menikah. Kok bisa? Mengapa tidak? Di dunia maya orang boleh mencaci-maki, membenci, mengutuk tujuh turunan, orang lain yang tak pernah ditemuinya di dunia nyata. Di dunia maya orang bisa jual beli meskipun tak saling sua. Lalu mengapa pula di sana orang tak boleh saling mencintai dan berkomitmen menikah? Boleh atau tidak boleh, nyatanya Paimah dan Paiman sudah sah menikah.

***

Segera setelah pesta berakhir, malam itu juga, Paiman berangkat ke luar negeri. Ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Tidak jelas mengapa pekerjaan itu tak bisa diselesaikan dari kejauhan secara online. Tidak jelas juga apakah malam pertama mereka tertunda atau tetap berlangsung secara online.

_____________

  1. ater-ater: “ter” pada ater-ater dilafalkan seperti “ter” pada terbang.
  2. samawa: sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s