Bahasa dan Keadilan dan Kecerdasan Pikiran

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”, demikian kurang lebih pesan yang ditujukan kepada Minke, tokoh utama dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Berangkat dari pesan yang amat berat untuk dilaksanakan ini, mari menelanjangi bahasa yang biasa kita pakai. Apakah bahasa tersebut, kata-kata yang acap kita gunakan, sudah cukup membuat pikiran kita lumayan adil? Sebab bahasa tidak hanya menjadi alat untuk menyatakan isi pikiran, tetapi ia juga turut membentuk pikiran itu sendiri.

Karena kurang kerjaan, saya sampaikan beberapa contoh penggunaan bahasa yang menurut saya bisa membuat pikiran kurang adil, juga kurang cerdas dan kurang sopan.

Ndeso dan Bahasa Gebyah Uyah

Saya suka sekali dengan kata ndeso dan tentu saja senang menjadi ndeso. Lihatlah tekad yang tertera di blog saya ini: berusaha tetap ndeso. Sewaktu duduk di bangku Sekolah Dasar, setiap kali disuruh bernyanyi di depan kelas, lagu yang saya nyanyikan juga berhubungan erat dengan desa: Desaku Yang Kucinta. Bagaimana saya yang hidup di desa bisa gemar menyanyikan lagu itu? Di samping karena tak ada lagu lain yang bisa saya nyanyikan, pilihan atas lagu itu juga didasari angan-angan bahwa suatu saat saya akan memiliki saat-saat rindu kampung halaman, desa dengan segala kebersahajaan, keasrian, kepolosan, sawah-sawah menghijau, anak-anak yang bermain petak umpet, dan semangat kebersamaannya.

Saya sungguh geli bila ada yang memakai istilah ndeso untuk mengritik kesalahan, betapa pun kesalahan itu benar adanya. Lebih geli lagi kalau istilah itu dipakai untuk menertawakan orang lain. Menanggapi tayangan viral yang menampilkan anak-anak kecil berteriak-teriak “bunuh si Anu”, seorang anak pejabat mengutuk keras hal itu dengan cemoohan: “ndeso!”.  Sudah benar dia mengutuk. Ajakan untuk membunuh seseorang, apalagi ajakan itu diteriakkan oleh anak-anak kecil, tak pantas didiamkan, sangat pantas untuk dikutuk, agar tak menjadi kelaziman. Tetapi istilah ndeso membuat kutukan itu menggelikan. Ini semacam gebyah uyah, generalisasi, bahwa semua unsur desa itu terbelakang, bodoh, bahkan biadab.

Belakangan hal-hal yang dulu hanya dijumpai di kota ternyata juga banyak ditemui di desa-desa. Pabrik-pabrik mulai bermunculan di sana, menduduki sawah-sawah subur. UMK yang terlalu tinggi menurut pengusaha bertemu padu dengan nilai tukar petani yang kurang menjanjikan, menggeser pabrik-pabrik yang semula berada di daerah perkotaan menuju desa-desa yang tingkat upahnya jauh lebih rendah. Gawai dengan seabrek media (a)sosial yang terpasang di dalamnya juga telah menjadi gaya hidup anak-anak desa. Saya ingin membayangkan kalau gawai itu mereka gunakan untuk koordinasi persiapan angon (menggembala kambing atau sapi) bersama. Tetapi ternyata sama saja. Seperti di kota-kota, gawai itu juga kerap membuat mereka duduk tepekur menghadap layar sentuh selama berjam-jam, mengabaikan hal-hal sekitar. Jadi soal desa dengan segala kepolosan dan anak-anak yang bermain petak umpet itu tampaknya saya juga terjerembab dalam generalisasi.

Demi merawat akal sehat, kita mesti mewaspadai ungkapan-ungkapan gebyah uyah seperti ini. Banyak contoh yang lain: teroris diidentikan dengan muslim, kaum sarungan dianggap selalu terbelakang, atau orang barat yang dikesankan keren dan cerdas.

Dari Cacat sampai Berkebutuhan Khusus

Dulu dengan entengnya bahasa kita menyebut mereka yang memiliki cara berbeda dalam mengindra sesuatu atau menggunakan anggota tubuhnya sebagai orang cacat. Padahal cacat adalah sebutan untuk aib, cela, dan ketidaksempurnaan. Dalam proses produksi, produk cacat haruslah disingkirkan dan dibuang. Dalam transaksi jual beli, produk cacat bisa diretur. Maka mereka yang dengan pongah kita sebut cacat layak diberi tempat khusus (bisa dibaca: disisihkan).

Meski tidak sampai selama 2 tahun, negeri ini pernah memiliki presiden dengan penglihatan mata yang “terbatas”. Beberapa tahun setelah dilengserkan, beliau kemudian mencalonkan diri menjadi presiden tetapi tidak lulus uji kesehatan. Menurut para dokter yang berwenang menguji, beliau dinilai tidak mampu secara jasmani dan rohani untuk melaksanakan tugas kepresidenan. Sama seperti alasan pelengseran beliau yang tidak pernah jelas apalagi terbukti, tidak pernah juga dijelaskan pada parameter apa beliau tidak mampu secara jasmani dan rohani untuk menjadi presiden. Karena alasan penglihatan atau faktor kesehatan yang lain? Mungkin hanya Tuhan dan para dokter itu yang tahu. Namun demikian kita harus berbaik sangka bahwa beliau dinyatakan tidak mampu bukan karena faktor penglihatan. Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan dokter-dokter penguji pastilah orang-orang pintar, cerdas, dan berwawasan luas. Mereka pasti tak menghiraukan celoteh bodoh seperti “Apa tidak ada yang lain? Orang buta kok dijadikan presiden”. Mereka pasti paham bahwa Franklin Delano Roseevelt, presiden Amerika Serikat ke-32, juga memiliki gangguan penglihatan dan berbagai keterbatasan fisik. Dengan kondisi seperti itu dia bukan hanya bisa jadi presiden, tapi bahkan menjalankan jabatan itu sampai 4 kali (waktu itu berapa kali menjabat belum dibatasi). Mereka juga pasti tahu kalau Beethoven itu tuli tapi justru sangat piawai menghasilkan karya yang menurut kita butuh indra pendengaran: musik! (Kita mungkin bisa terima Stevie Wonder atau Asep Irama jadi penyanyi. Suara bagus tidak ada sangkut pautnya dengan penglihatan bagus. Kita bisa terima Stephen Hawking jadi fisikawan hebat. Olah pikir tak membutuhkan kaki dan tangan. Kita bisa terima Si Buta dari Gua Hantu jadi pendekar hebat, wong itu cuma rekaan. Tapi mencipta komposisi musik klasik dan memimpin orkestra dalam keadaan tuli, oh my dog, itu melanggar akal sehat!)

Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa penyebutan cacat bukan hanya tidak sopan, tetapi juga tidak logis dan tidak adil. Mereka layak disebut difabel, orang-orang yang dianugerahi kemampuan berbeda (differently abled). Dan kita sudah merasa sangat beradab dengan memperhalus sebutan untuk mereka: penyandang disabilitas, orang berkebutuhan khusus, atau penyandang ketunaan.

Saya menyesal pernah menggunakan kata autis untuk menasihati anak agar jangan terlalu banyak main gadget. Kebanyakan main gadget membuatnya abai terhadap orang-orang sekitar, kurang respon terhadap lingkungan, karena seolah-olah punya dunia sendiri dengan gadgetnya. Penggunaan kata autis yang saya lakukan jelas tidak mencerminkan empati kepada mereka yang mengalami autisme. Dan lebih dari itu, banyak penyandang autisme yang memiliki kelebihan-kelebihan khusus dan menjadi orang-orang hebat. Maka kemudian saya merevisi nasihat: “Jangan kebanyakan main gadget! Nanti kamu jadi zombie.”

Ah, tetapi pakai istilah zombie belakangan ini juga mengkhawatirkan. Bisa dianggap menista agama oleh mereka yang yakin kalau zombie itu pahlawan Islam Brazil. He..he…

Ulang Tahun

Kata ulang menunjukkan adanya sesuatu yang diulang, dilakukan lagi. Pesawat ulang-alik adalah pesawat yang bisa terbang ke luar angkasa lalu kembali terbang ke bumi. Kaji ulang adalah mengkaji kembali suatu kebijakan, karya tulis, dokumen, dan lain-lain. Dalam upaya pelestarian lingkungan, kita mengenal daur ulang (recycle) dan pakai ulang (reuse) yang menunjukkan pemakaian kembali bahan tertentu guna meminimalkan sampah atau limbah yang terbuang. Isi ulang berarti kegiatan mengisi kembali sebuah wadah yang sudah kosong.

Yang menggelitik saya adalah istilah ulang tahun. Berbeda dengan istilah-istilah lain yang mengandung ulang, tak ada tahun yang diulang di dalam ulang tahun. Tahun, seperti kita pahami, seperti halnya detik, jam, minggu, hari, bulan, atau abad, adalah sesuatu yang tak pernah bisa terulang. Ia senantiasa bergerak maju, detik demi detik, dan tak pernah kembali ke belakang. Jadi istilah ulang tahun jelas-jelas mengandung pertentangan (contradictio in terminis). Tahun tak pernah bisa diulang. Mungkin pada saat seseorang merayakan ulang tahun, hitungan tanggal dan nama bulan pada saat itu sama dengan hitungan tanggal dan nama bulan saat ia dilahirkan, tetapi bagaimanapun jua waktu kelahirannya tak akan bisa diulang. Ia tetap tertinggal di masa lalu.

Mungkin yang ingin diulang dalam ulang tahun adalah kenangan. Tetapi untuk hal ini pun beberapa bahasa lain yang saya kenal tidak ada yang menggunakan frase ulang tahun. Tengoklah Inggris! Bangsa ini atau bangsa-bangsa lain yang menggunakan Bahasa Inggris menggunakan istilah birthday, hari lahir. Untuk mengucapkan selamat bagi seseorang yang sedang merayakan hari lahirnya, mereka cukup berkata, “Happy birthday!”. Kita, dengan santai, menerjemahkan istilah ini dengan “Selamat ulang tahun!”  Lalu tengoklah pula bangsa Arab! Dalam hal ini, mereka menggunakan istilah milad, waktu lahir. Kata birthday maupun milad sama sekali tidak bersangkut-paut dengan pengulangan tahun kelahiran. Penggunaan dua kata ini jelas lebih bijaksana dan lebih bertanggung jawab secara logika. Tapi pembelaan tentu saja tetap bisa dilakukan: ulang tahun adalah mengulang kenangan.

Sebenarnya, di sementara kalangan di negeri ini, sudah mulai digunakan istilah yang lebih baik. Beberapa di antaranya—yang notabene merupakan organisasi Islam—menyerap istilah asing: milad. Beberapa yang lain, meskipun menggunakan bahasa Indonesia, tetapi mereka menggunakan dengan benar dan masuk akal. Mereka memilih istilah harlah, kependekan dari hari lahir.

Tetapi baiklah, kesalahan ini tak perlu terlalu dihiraukan. Toh banyak sekali kesalahan yang terjadi pada bangsa ini, semua itu tak pernah merisaukan hati kita. Jadi walau agak lucu, kita teruskan saja penggunaan istilah ulang tahun.

Penutup?

Lalu apa manfaat membicarakan semua ini? Saya kira tidak ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s