Kentut

Kentut, begitulah angin yang keluar dari sela-sela pantat ini lazim disebut. Oleh banyak orang ia dianggap menjijikkan. Ia bisa tidak berbau, sekaligus bisa berbau sangat busuk, tergantung dari situasi dan kondisi perut. Tapi yang jelas belum pernah terdengar ada kentut yang berbau harum. Meski dianggap menjijikkan, ia adalah kewajiban-kodrati setiap manusia, tanpa pandang bulu yang mana pun. Meski tidak diberitakan dalam acara-acara infotaintment dan gosip di tipi-tipi dan tidak pernah dimunculkan di media-media (a)sosial, para selebritis yang cantik-cantik dan tampan-tampan itu pasti pernah kentut juga. Dan gara-gara nggak bisa kentut, tetangga saya di kampung menjual sawahnya untuk berobat. Jadi di samping kewajiban-kodrati, kentut juga merupakan kebutuhan asasi.

Banyak hal yang menarik di seputar kentut ini.

Almarhum bapak saya, ketika ngaji hal-hal yang bersifat ta’abbudi dalam fikih, yaitu aturan-aturan yang memang sudah begitu dari sononya, tak perlu dipikir alasan rasionalnya, mengambil “kentut” sebagai contoh kasus. “Salah satu hal yang membatalkan wudlu adalah kentut, yang notabene keluar dari sela-sela pantat,  tetapi mengapa dalam wudlu tidak sedikit pun bagian yang itu dibersihkan. Menyentuh yang itu justru membuat wudlu batal ”, begitu kata bapak saya.

Guru ngaji saya dulu juga pernah bercerita bagaimana Imam Hatim, seorang sufi dan ulama besar yang pernah menetap di Irak, mendapat gelar kehormatan Al-Ashom, Si Tuli, sehingga kemudian terkenal dengan sebutan Hatim Al-Ashom, juga karena kentut.

Ada beberapa versi detail cerita. Yang saya dapat ceritanya begini. Suatu hari, Imam Hatim yang juga pedagang kelontong ini mendapati seorang gadis yang hendak membeli sesuatu kepadanya. Entah karena apa, waktu gadis ini menyebutkan apa keperluannya, bersamaan itu pula ia mengeluarkan kentut. Nyaring sekali bunyinya. Muka gadis itu menjadi merah padam menahan malu. Tapi rupanya Imam Hatim adalah seorang ulama yang sangat arif. Beliau menanyakan kembali apa keperluan si gadis tersebut. Setelah si gadis memberikan jawaban (dengan perasaan malu, tentunya), beliau mengulang pertanyaan yang sama. Dijawab, bertanya lagi. Dijawab lagi, bertanya lagi, sampai beberapa kali. Akhirnya si gadis itu mengurungkan niatnya untuk berbelanja. Tapi mukanya menjadi cerah ceria. Ia menganggap Imam Hatim adalah seorang yang tuli, yang tak bisa mendengar suara kentutnya. Demi menjaga harga diri orang lain, Imam Hatim begitu ikhlas dianggap sebagai orang tuli, meskipun pendengaran beliau sehat walafiat. Sejak saat itu, para koleganya memberinya ­julukan: Si Tuli.

Dalam pewayangan, lain lagi ceritanya. Suatu saat, waktu menghadapi puluhan butha (raksasa) yang— kata  kebanyakan para dalang, kecuali (mungkin) Sujiwo Tedjo, atau Ki Enthus Susmono— jahatnya minta ampun itu, Semar, lurah Karang Kedempel, saudara kembar Togog yang konon merupakan jelmaan dari Bathara Ismaya, mengeluarkan kentutnya. Suaranya keras menggelegar bak bom atom yang dibanting di Hiroshima dan Nagasaki. Baunya menyengat, busuk. Raksasa-raksasa itu pun langsung tewas semua.

Putu Wijaya, cerpenis kelahiran Tabanan, Bali, yang terkenal dengan teror mentalnya, juga punya beberapa cerita perihal kentut. Dalam sebuah cerpennya, ia berkhayal tentang seorang lelaki yang dipukuli beramai-ramai oleh massa hingga tewas gara-gara ia kentut. Massa yang memukuli lelaki ini menganggap kentut sebagai sesuatu yang sangat menjijikkan dan mengganggu ketertiban.  Kentut adalah tindakan subversif, demikian Putu memparodikan Pak Harto. Lalu dalam cepennya yang lain, ia juga bercerita soal kentut: seorang lelaki diusir oleh calon mertuanya gara-gara kentut waktu melamar anak gadisnya.

Tapi yang terjadi pada Nashrudin Khouja—sebut saja begitu, meminjam nama yang lazim dipakai dalam lelucon-lelucon Timur Tengah—adalah justru sebaliknya.  Ia dipuja-puja jutaan manusia karena sesuatu yang berhubungan dengan kentut.

Suatu hari Nashrudin menemukan formula kimia yang bisa membuat kentut menjadi harum. Segera ia mematenkan penemuannya itu. Segera pula berbagai produk minuman pengharum kentut bermunculan di sana-sini. Ada minuman pengharum kentut beraroma apel, jeruk, melati, dan aroma-aroma lainnya.

Sejak saat itu pula kentut di depan umum menjadi sebuah kelaziman. Para peragawan dan peragawati yang melenggak-lenggok di atas catlwalk  terbiasa kentut dengan keras. Dalam jamuan resmi kenegaraan, dua orang kepala negara tak malu lagi memperdengarkan desahan atau lengkingan kentutnya. Dalam acara rapat dan seminar, kentut menjadi sama lazimnya dengan menguap, batuk, atau bersin. Orang tak perlu lagi menahan kentutnya. Mereka bebas kentut, di mana saja, kapan saja, dan sekeras yang mereka inginkan.

Sejak saat itu pula lahir ungkapan-ungkapan: “Kentut pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda.”, atau …”Kentut, Siapa takut?”

***

Jadi jangan terlalu benci dan jijik dengan kentut. Siapa tahu suatu saat sampeyan mengaguminya setengah mati.

Wassalam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s