Abadi

Mari bicara hal tak penting: soal nama. Kata William Shakespeare, ”What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet”. Tapi dalam satu hal berikut ini orang Jawa mungkin tidak sepakat dengan sastrawan Inggris itu.

Orang Jawa punya etika tertentu dalam panggil-memanggil nama orang, apalagi jika orang itu dianggap terhormat atau lebih tua. Mungkin ini bukan khas Jawa, tetapi karena besar dalam budaya Jawa, maka saya akan mengungkapkannya dalam pikiran-pikiran dan ekspresi-ekspresi ke-Jawa-an. Dalam budaya Jawa, memanggil atau menyebut langsung nama Tuhan atau orang yang dituakan atau orang yang dihormati sungguh merupakan tindakan lancang dan tidak sopan.

Untuk menyebut Tuhan, orang Jawa harus mendahuluinya dengan sebutan kehormatan gusti: Gusti Allah. Meskipun di dalam Al-Quran atau kitab-kitab kuning Allah ditulis Allah saja tanpa embel-embel apa pun, para kyai dan ustadz di pesantren-pesantren Jawa akan selalu menerjemahkannya dengan Gusti Allah. Terjemahan Al-Quran Kementerian Agama atau buku-buku dan karya ilmiah berbahasa Indonesia atau Inggris boleh menyebut Allah saja, tetapi buku-buku terjemahan bertuliskan Arab Pego, aksara transliterasi Jawa-Arab, selalu menulis dengan takzim: Gusti Allah. Muslim Jawa yang tidak pernah salat pun juga takut menyebut Allah saja tanpa gusti. Tanpa gusti sebelum Allah, ada perasaan kurang ajar yang menghantui setiap muslim Jawa.

Tokoh-tokoh yang dihormati juga tidak boleh disebut langsung namanya. Harus ada sapaan kehormatan sebelum nama itu. Untuk menyebut Muhammad, utusan terakhir Gusti Allah, harus diawali dengan gelar kanjeng nabi, Kanjeng Nabi Muhammad. Meskipun dalam sebuah hadits beliau mengajarkan salawat dengan menyebut Muhammad saja tanpa embel-embel apa pun, muslim Jawa menilai itu sebagai bentuk kerendahhatian beliau, bukan perintah untuk njambal (menyebut nama seseorang secara langsung tanpa diawali sapaan penghormatan seperti mas, bapak, dan sebagainya). Panggilan njambal Muhammad saja tanpa panggilan kehormatan adalah menyalahi unggah-ungguh (etika). Selain untuk Kanjeng Nabi Muhammad, panggilan penghormatan juga berlaku untuk Kanjeng Sunan Kalijogo, Kanjeng Sunan Giri, dan lain-lain.

Saat menjadikan nama-nama tokoh sebagai nama-nama untuk anak-anak perempuan mereka, muslimin Jawa juga pantang men-jambal. Ini yang membikin takjub.  Anda tidak akan menemukan nama Fatimah, Aminah, atau Aisyah, melainkan Siti Fatimah, Siti Aminah, atau Siti Aisyah. Siti, mungkin berasal dari sayyidah atau sayyidati, bermakna puan dalam ungkapan Indonesia. Jadi walaupun hanya untuk menamai anak, bukan untuk menyebut tokoh yang bersangkutan, muslim Jawa tetap tidak berani njambal. Namun belakangan siti sepertinya dianggap kampungan oleh orang Jawa modern. Maka disandingkanlah nama-nama tokoh perempuan itu dengan sebutan lain macam Fatimah Azzahra, Fatima Mernissi, atau Amina Wadud.

***

Abadi adalah nama tetangga depan rumah kami. Kami memanggilnya Cak Di, sementara anak kami dan anak-anak lain seusianya memanggilnya Wak Di. Cak (mas) dan wak (paman) tentu saja adalah sapaan penghormatan untuk beliau.

Sewaktu kecil, saat belajar membaca, anak kami selalu “gagal” membaca tulisan “abadi”. Semua huruf sudah dia kenali: a, b, a, d, i. Pengucapan suku katanya juga sudah tepat: a, ba, di. Namun saat eksekusi terakhir, dia selalu membaca: WAK DI.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s