Takdir

سوابق الهمم لا تخرق أسوار الأقدار

“Betapapun kuat keinginan, betapapun keras upaya, tak akan mampu menembus tembok takdir.” [Imam Ibnu Atha’illah]

Waktu dan Suratan Takdir

Di bagian akhir film Looper, Joe tua (Bruce Willis) yang berasal dari masa depan sebenarnya hampir berhasil membunuh Cid, bocah kecil masa kini yang kelak di masa depan akan menjadi seorang pembunuh terkenal dengan sebutan Rainmaker. Rainmaker inilah yang “telah” membunuh istri Joe tua di masa depan. Dengan membunuh Cid, pikir Joe tua, Rainmaker tidak akan pernah ada di masa depan dan tentu saja pembunuhan istrinya tidak akan terjadi. Joe tua gagal membunuh Cid. Sara (Emily Blunt), ibu pengasuh Cid, dengan gagah berani menghadang peluru yang ditembakkan Joe tua pada Cid. Sara mati, Cid berlari menjauh entah ke mana. Joe muda (Joseph Gordon-Levitt), Joe di masa kini, menyaksikan semua itu. Berbeda dengan Joe tua yang memilih berusaha membunuh Cid untuk mencegah kemunculan Rainmaker, Joe muda justru berpikir bahwa terbunuhnya Sara akan menjadi peristiwa suram yang mendorong Cid untuk menjadi penjahat di masa depan.  Oleh karena itu ia harus menghentikan Joe tua, yang tak lain adalah dirinya sendiri di masa depan. Tapi ia tak mampu menghentikan Joe tua. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah menembak diri sendiri. Ya, ia mati oleh tembakannya sendiri. Dan segera setelah itu Joe tua lenyap, Sara urung terbunuh, dan Cid kembali ke perempuan pengasuhnya itu dengan penuh kasih sayang.

Sebagai film tentang penjelajahan waktu, Looper tampaknya masih setia dengan logika yang bisa kita pahami. Kalau Joe muda mati, tentu tak ada Joe tua, tak ada istri Joe tua, tak ada pembunuhan terhadap istri Joe tua, dan tentu saja seluruh kisah Joe tua dalam film ini sebenarnya tak pernah ada. Apakah Cid kelak akan menjadi Rainmaker sang pembunuh terkenal? Bagian akhir film ini memberikan pesan bahwa memberikan kasih sayang dan menghindarkan pengalaman-pengalaman buruk adalah upaya yang harus dilakukan agar seorang anak kelak menjadi orang baik. Ini adalah pesan tak terbantahkan dan insyaallah disetujui semua orang, termasuk penulis. Film ini menegaskan kalau Cid kelak tidak akan pernah membunuh istri Joe tua—yang memang tidak pernah ada. Namun demikian, film ini juga tidak memberikan jawaban pasti apakah pengorbanan Joe muda membuahkan hasil sesuai harapan: Cid tidak menjadi seorang pembunuh di masa depan.

Cerita film di atas agak mirip dengan kisah Nabi Musa dan gurunya dalam Al-Quran (QS 18: 65-82). Tentu kisahnya tidak sedetil dan sepanjang film. Guru Nabi Musa itu, yang di banyak kitab tafsir disebut sebagai Khidir, dikisahkan membunuh seorang remaja dalam sebuah fase perjalanan mereka. Nabi Musa jelas memprotes tindakan Khidir tersebut. Apakah dibenarkan seorang remaja diakhiri hidupnya tanpa alasan yang setimpal? Khidir akhirnya menjelaskan sesuatu yang tidak diketahui oleh Musa. Beliau rupanya dianugerahi pengetahuan tentang masa depan bahwa kelak remaja itu akan menjadi penjahat dan sangat durhaka kepada orang tuanya. Mengakhiri hidup si remaja justru untuk mencegah kerusakan dan kebinasaan lebih besar yang kelak akan dilakukannya.

Kedua kisah itu dengan caranya masing-masing menyampaikan “bocornya” plot peristiwa masa depan. Masing-masing tokohnya berupaya mencegah terjadinya peristiwa tersebut. Dan sebagaimana diketahui, pada akhirnya plot peristiwa itu tidak pernah terjadi di masa depan. Pertanyaannya, apakah tokoh-tokoh di kedua kisah tersebut memang mampu mengubah plot peristiwa masa depan? Atau apakah tindakan mereka mengubah plot peristiwa masa depan juga merupakan bagian dari plot tertentu yang sudah dipersiapkan sebelumnya? Atau jangan-jangan memang tidak ada plot peristiwa masa depan? Atau ada plot peristiwa masa depan, tapi sifatnya hanya pilihan-pilihan yang perwujudannya ditentukan oleh peristiwa-peristiwa di masa sebelumnya? Kalau Khidir membiarkan remaja itu hidup, maka plot yang terjadi di masa depan adalah remaja itu menjadi penjahat. Karena beliau memilih mengakhiri hidup si remaja, maka plot yang terjadi: remaja itu tak pernah dewasa dan menjadi penjahat.

Imam Ibnu Atha’illah memberikan jawaban singkat atas pertanyaan-pertanyaan tersebut—jawaban yang berpijak pada akidah tentang takdir Tuhan: betapapun kuat keinginan, betapapun keras upaya, tak akan mampu menembus tembok takdir. Jadi, mengacu pada dua kisah yang dijadikan contoh pada tulisan ini, tindakan para tokoh kisah tersebut dalam mengubah plot peristiwa masa depan adalah bagian dari plot yang sudah ditetapkan sebelumnya. Joe ataupun Khidir tak kuasa sedikit pun mengubah peristiwa masa depan kecuali tindakannya memang sudah disuratkan demikian. Inilah qadla dan qadar.  Qadla, meminjam definisi Syaikh Al-Buthi (2003:61), adalah ketetapan dan pengetahuan Allah di awal mula sebelum zaman berawal terkait segala sesuatu yang akan terjadi di masa-masa setelahnya. Setelah ketetapan tersebut terjadi maka ia menjadi qadar. Qadar atau takdir ini ada yang bersifat mubram: mutlak dalam genggaman kuasa Tuhan, makhluk sama sekali tidak berperan serta di dalamnya, dan ada yang bersifat mu’allaq: makhluk “berperan serta” dalam mewujudkannya. Kematian dan hari kiamat adalah termasuk takdir mubram, sementara tindakan dan capaian manusia dalam beribadah, bermuamalah, atau memilih baik-buruk, lazim dikategorikan sebagai takdir mu’allaq. Baik mubram ataupun mu’allaq, keduanya berada di dalam kuasa, kehendak, dan pengetahuan Allah yang azali dan abadi. Sebagai ilustrasi, Al-Quran memberikan penjelasan bahwa tidak ada sehelai daun pun gugur tanpa sepengetahuan-Nya, tidak ada yang basah maupun kering tanpa suratan-Nya (QS 6:59); Dia Maha Mengetahui atas apa yang lampau dan yang akan datang, tiada seorang pun memiliki pengetahuan kecuali atas ijin dan kehendak-Nya (QS 2:255).

Dalam lingkup pengetahuan dan kesadaran manusia yang terbatasi oleh waktu, konsep qadla dan qadar di atas sepertinya melahirkan berbagai pertanyaan. Jika Tuhan mengetahui dan menetapkan segala sesuatu yang akan terjadi, bukankah kekuasaan-Nya terbatasi oleh ketetapan dan pengetahuan-Nya sendiri? Jika Tuhan berkuasa mengutak-atik—ya, Dia fa’aallul li maa yurid, bebas berbuat sekehandak-Nya—apa yang akan terjadi di masa depan, lalu bagaimana menjelaskan pengetahuan-Nya tentang masa depan? Bukankah dengan demikian masa depan menjadi gelap, sama sekali tak diketahui oleh-Nya? Ruwet bin mbulet kan?

Ya, memang ruwet bin mbulet kalau pengetahuan dan kesadaran manusia yang sangat terbatas digunakan untuk menjelaskan Tuhan yang tak bisa dibandingkan dan dijelaskan dengan apapun (wa lam yakun lahu kufuwan ahad—tiada sesuatupun yang membandingi-Nya). Kita yang masih terbata-bata memahami relativitas waktu-nya Einstein, masih memperdebatkan apakah waktu itu realitas obyektif atau hanya persepsi saja, sudah begitu berani berpikiran bahwa Tuhan juga mengalami aliran waktu seperti kita: dari masa lalu ke masa kini menuju masa depan.

Sayangnya semua penjelasan tentang Tuhan tidak bisa dilakukan kecuali dengan bahasa, pengetahuan, dan kesadaran yang terjangkau manusia.

Hukum Sebab Akibat

Saat manusia selalu menemukan fakta bahwa benda akan memuai bila dipanaskan mereka kemudian menyimpulkan sebuah hukum sebab-akibat: semua benda akan memuai bila dipanaskan. Hukum sebab-akibat ini mungkin menjadi sebuah keyakinan ilmiah selama berabad-abad sampai manusia sadar akan adanya fenomena anomali air. Dalam rentang suhu 0 sampai 4 derajat Celcius, air bertentangan dengan keyakinan ilmiah itu: ia menyusut jika dipanaskan, memuai jika didinginkan. Segera setelah itu, atas nama kesehatan berpikir, hukum sebab-akibat “semua benda akan memuai bila dipanaskan” segera digugurkan. Pernyataan ilmiah yang lebih tepat tentu saja “sebagian besar benda akan memuai bila dipanaskan” atau “ada benda yang tidak memuai bila dipanaskan”.

Keyakinan ilmiah sains dan berbagai disiplin ilmu lainnya banyak bertumpu pada peristiwa-peristiwa dengan pola tertentu dan ajeg yang kemudian dijadikan kaidah umum. Secara statistik, semakin banyak peristiwa yang seragam akan semakin tinggi tingkat kebenaran kaidah umum yang disimpulkan dari peristiwa tersebut. Namun demikian, dari sudut pandang logika, segala kepastian yang disimpulkan dengan cara ini selalu salah: sebanyak apapun angsa putih yang teramati tidak akan mampu membenarkan kesimpulan bahwa semua angsa berwarna putih (Popper, 2002:4) . Kalimat terakhir ini disampaikan oleh Karl R. Popper (1902-1994), seorang filsuf asal Austria yang terkenal dengan prinsip falsifikasi. Menurut prinsip falsifikasi, sebuah teori saintifik haruslah memiliki kemungkinan untuk dibuktikan kesalahannya. Dalam pandangan popperian, sekokoh apapun kebenaran hukum sebab akibat yang dirumuskan sains tidak akan mencapai derajat kebenaran mutlak, ia bisa salah dan harus memungkinkan untuk disalahkan.

Dengan menyebut falsifikasi Popper, tulisan ini tidak bermaksud meremehkan hukum sebab-akibat yang telah dirumuskan oleh sains dan ilmu pengetahuan lain, pun tidak bermaksud mengajak pembaca untuk meninggalkan pertimbangan-pertimbangan logis, sebab-akibat, dan dialektika peristiwa dalam menjalani hidup atau memperjuangkan sesuatu. Sama sekali tidak. Tulisan ini hanya mengajak kita merenung: selain sedikit sebab yang kita ketahui, ada banyak sebab lain yang tidak kita ketahui dan tidak bisa kita kontrol, yang dapat menghadirkan atau menghalangi akibat. Misalnya Anda hendak pergi ke suatu kota yang lazimnya butuh waktu 2,5 jam perjalanan mobil. Kondisi kendaraan sudah sangat fit. Dari berbagai media informasi, jalanan menuju ke sana terpantau lancar. Untuk mengantisipasi hal-hal tak terduga, Anda menambahkan 0,5 jam ke dalam prakiraan. Berbagai faktor sudah Anda perhitungkan masak-masak. Namun ternyata untung tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak. Anda baru sampai ke kota itu setelah 7 jam lebih perjalanan karena terhalang macet hebat akibat sebuah kecelakaan. Kalau gengsi mengakui adanya Tuhan beserta takdir-Nya, mungkin Anda akan berkesimpulan: ini kebetulan yang menyebalkan!

Kehendak Manusia

Membincang takdir pada akhirnya harus juga membicarakan kehendak manusia. Pertama, ada yang berkeyakinan bahwa manusia memiliki kehendak yang bebas dari intervensi Tuhan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Kehendak bebas manusia ini menjadi prasyarat bagi keadilan Tuhan: adalah tidak adil memberikan hukuman atau pahala atas tindakan tak bebas manusia. Tentu keyakinan seperti ini berkonsekuensi menganggap Tuhan hanya sebagai penonton saja. Sifat maha kuasa dan maha berkehendaknya-Nya runtuh karena tak memiliki kuasa dan kehendak atas tindakan manusia. Kedua, berlawanan dengan keyakinan ini, ada juga yang berkeyakinan bahwa kehendak dan tindakan manusia dikendalikan oleh Tuhan.

Keyakinan pertama berangkat dari definisi adil yang bersifat subjektif. Sama seperti cantik, adil tak bisa ditentukan dengan batasan-batasan logis. Kalau adil adalah harus menghukum yang berdosa dengan hukuman setimpal dan memberikan pahala bagi yang berbuat baik, tentu tidak adil bila Tuhan memberikan ampunan bagi mereka yang berdosa. Para teolog asy’ariyah malah berargumen bahwa tidaklah adil bagi Tuhan yang berkuasa atas segalanya, menciptakan semuanya, tapi tidak memiliki kuasa atas tindakan manusia. Keyakinan kedua berangkat dari hubungan logis antara kehendak bebas manusia dan sifat Tuhan yang Mahakuasa dan Maha Berkehendak: kalau kehendak manusia bebas dari intervensi Tuhan, maka Tuhan tak lagi Mahakuasa dan Mahaberkehendak. Karena itulah, mereka yang meyakini kehendak bebas manusia cenderung memberikan batasan kepada Tuhan: pengetahuan-Nya tidak bersifat azali, Tuhan tidak mengetahui detail peristiwa, atau Tuhan hanya menciptakan hukum-hukum kauniyah dan kemudian membiarkan segala peristiwa terjadi sendiri menurut hukum-hukum tersebut.

Di sekitar abad ke-2 Hijriyah kedua corak keyakinan ini begitu riuh dan panjang berdebat hingga melahirkan kelompok Qadariyah (pro-kehendak bebas), Jabbariyah (pro-tindakan terpaksa), dan Asy’ariyyah yang mencoba menengahi keduanya. Begitu riuh dan panjangnya perdebatan itu sehingga memberikan penjelasan tentang hubungan antara kehendak manusia dan takdir Tuhan dalam tulisan singkat ini mungkin tidak akan memuaskan.

Kedua corak keyakinan di atas sama-sama menyandarkan diri pada ayat-ayat Al-Quran. “Setiap orang akan mendapat pahala atau siksa atas apa yang dilakukan (QS 2:286)” dan “sesungguhnya manusia tidak akan mendapat balasan kecuali atas apa yang mereka lakukan sendiri (QS 53:39)” adalah beberapa penggalan ayat yang mengindikasikan bahwa manusia memiliki kehendak bebas, sementara QS 81:29: “kalian tidak berkehendak kecuali Allah Penguasa Alam yang berkehendak”, adalah salah satu ayat yang mengindikasikan sebaliknya.

Sebenarnya kedua corak keyakinan di atas bisa didamaikan. Syaikh Al-Harari (1997:59) membuat perumpamaan seorang penunggang dan hewan tunggangannya. Supaya sang penunggang bisa menggerakkan tunggangannya, hewan tunggangannya pun harus punya kemampuan dan keinginan untuk bergerak. Penulis lebih suka dengan analogi pejabat yang mendapat kewenangan dan kekuasaan tertentu karena pelimpahan dari pejabat yang lebih tinggi. Si pejabat bisa menjalankan kewenangan dan kekuasaan tersebut, tetapi sebetulnya kewenangan dan kekuasaan itu berada di tangan pejabat yang lebih tinggi.  Kehendak bebas manusia merupakan akibat dari kehendak Tuhan. Pada satu tahap manusia berkehendak bebas atas perbuatan-perbuatannya, pada tahap yang lebih tinggi harus diyakini bahwa kehendak bebas manusia itu merupakan kehendak Tuhan juga. Imam Ghazali (450-505 H) dalam magnum opus beliau, Ihya’ Ulumiddin (2005:1612-1613), menjelaskan bahwa manusia tidak akan mampu memunculkan atau menolak munculnya suatu kehendak dalam dirinya, juga tak mampu menolak jika kehendak itu kemudian mengendalikan kuasanya, lalu kuasa itu menggerakkannya untuk melakukan sesuatu.

Manusia memang bebas berkehendak, tapi apakah ia berkehendak atas muncul atau tidak munculnya kehendak tersebut?

Takdir Sebagai Batasan dan Motivasi

Mengingat begitu beratnya memahami takdir Tuhan, para ulama menasihati kita untuk tidak berlarut-larut membahasnya. Cukuplah mengimani takdir, takdir baik maupun buruk, lalu bersungguh-sungguhlah mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, demikian nasihat Imam Al-Hadad (w. 1132 H) (1999: 84). Lalu beliau menukil jawaban Sayyidina Ali ketika ditanya soal takdir: “takdir adalah samudera yang sangat dalam, maka janganlah kauselami; takdir adalah jalan gelap, maka jangan kaulalui; takdir adalah rahasia Allah yang disembunyikan darimu, maka jangan kaubuka!”

Imam Al-Hadad (1999: 83-84) juga memperingatkan agar takdir ilahi jangan sampai dijadikan dalih untuk mendurhakai Allah sebagaimana pernyataan “kalau Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan berbuat syirik…(QS 6:148)” atau “kalau Allah memang menghendaki, tentu kami tidak akan menyembah selain-Nya…(QS 16:35)”. Para penindas mungkin akan menjadikan takdir ilahi sebagai alibi atas penindasan yang mereka lakukan. Tapi tentu saja para pejuang yang melawan mereka juga boleh menjadikan takdir ilahi sebagai landasan perjuangan.

Syaikh Al-Buthi (2003:62-64) menyarankan dua sikap yang harus diambil terkait takdir. Ketika mengupayakan sesuatu target sementara pencapaian target tersebut harus menempuh jalan yang diharamkan, maka kita harus berprinsip: betapapun kuat keinginan, betapapun keras upaya, tak akan mampu menembus tembok takdir. Untuk menjadi kaya jangan sampai menghalalkan segala cara, rejeki sudah ada yang mengatur. Untuk berkuasa jangan sampai menyikut kawan, menebar fitnah, Tuhanlah yang memberi dan mencabut kuasa. Keyakinan pada takdir ilahi menjadi pembatas agar seseorang tidak menempuh jalan terlarang. Sebaliknya takdir yang bersifat rahasia harus menumbuhkan optimisme untuk selalu berusaha dengan jalan yang benar.

Catatan/Rujukan:

  • Al-Buthi, Muhammad Sa’id Ramadhan. 2003. Al-Hikam l-‘Athiyyah Syarh wa Tahlil. Juz I. Beirut: Dar ‘l-Fikr.
  • Al-Hadad, Abdullah ibn Alawi.1999. An-Nashaihud Diniyyah wa ‘l-Washaya ‘l-Imaaniyyah. Beirut: Dar ‘l-Hawi. (Angka tahun menunjukkan tahun penerbitan kitab yang telah dikarang ratusan tahun sebelumnya).
  • Al-Harari, Abdullah. 1997. Idzharul Aqidatis Sunniyah Syarh ‘l-Aqidah Thahawiyyah. Edisi 3. Beirut: Darul Masyari’.
  • Popper, Karl R.. 2002. The Logic of Scientific Discovery. London: Routledge. (diterbitkan kali pertama tahun 1935 dengan judul Logik der Forschung).
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 2005. Ihya’ Ulumiddin. Beirut: Dar Ibn Hazm. (Angka tahun menunjukkan tahun penerbitan kitab yang telah dikarang ratusan tahun sebelumnya).
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s