Hikam (Sebuah Pengantar)

Dua puluh tahunan yang lalu, Ahad adalah saat Al-Hikam bagi kami. Selepas Subuh, paman memboncengkan saya di atas sepeda anginnya. Kami meluncur menuju masjid pesantren. Di sana para santri sudah siap menunggu paman membaca dan mengulas mutiara-mutiara hikmah Imam Ibnu Atha’illah As-Sakandari (w. 709 H), seorang mursyid Tarekat Syadziliyyah. Saya termasuk santri yang kurang ajar: tidak perlu menunggu, malah diboncengkan. Kitab ajar yang dijadikan acuan dan diberi catatan oleh para santri adalah Syarh Al-Hikam karya Imam Asy-Syarqawi (w. 1227 H), dengan sesekali mengutip juga syarh Al-Hikam yang lebih panjang karya Imam Ibnu ‘Abbad Ar-Rundi (w. 792 H).

Imam Ibnu Atha’illah konon tidak pernah memberikan judul Al-Hikam pada mutiara-mutiara hikmah yang ditulisnya. Tak ada mukadimah dari beliau yang menjelaskan latar belakang penulisan kitab. Tak ada bacaan basmalah dan shalawat sebagai pembuka. Tak ada pembagian petuah-petuah beliau yang berjumlah 250 lebih bait itu ke dalam bab-bab dan pasal-pasal sebagai jamaknya kitab-kitab lain. Kalau Anda menemukan mukadimah panjang lebar sebelum substansi pokok Al-Hikam, bisa dipastikan itu berasal dari para ulama yang menyusun kitab komentar dan penjelas (syarh) atas Al-Hikam. Ada banyak kitab penjelas Al-Hikam, beberapa di antaranya sangat populer di pondok-pondok pesantren di Indonesia seperti Syarh Al-Hikam karya Ibnu ‘Abbad Ar-Rundi, Syarh Al-Hikam karya Imam Asy-Syarqawi, atau Ib’adul Ghumam-nya Imam Ibnu Ajibah (w. 1224 H). Ada juga kitab penjelas yang cukup mutakhir: Al-Hikam l-‘Athiyyah Syarh wa Tahlil. Kitab ini ditulis oleh ulama aswaja kontemporer Suriah yang syahid terbunuh bersama puluhan murid beliau akibat serangan bom pada saat mereka ngaji di sebuah masjid di Damaskus, Suriah, pada tahun 2013:  Syaikh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi.

Kalau Anda menuntut setiap petuah agama, bahkan undangan pernikahan, harus disertai dengan berbagai kutipan teks Al-Quran dan Hadits sahih, maka bersiap-siaplah kecewa saat membaca Al-Hikam. Sedikit sekali kutipan Al-Quran dan Hadits di dalamnya. Imam Asy-Syarqawi dan Imam Ibnu ‘Abbad Ar-Rundi tampaknya juga mengikuti jejak Imam Ibnu Atha’illah. Keduanya jarang sekali mengutip Al-Quran dan Hadits dalam kitab-kitab penjelas atas Al-Hikam yang mereka tulis. Tetapi meskipun jarang menyertakan ayat suci dan sabda Nabi, petuah-petuah bijak Al-Hikam jelas dijiwai oleh keduanya. Ini setidaknya dapat dibuktikan pada kitab penjelas Al-Hikam karya Syaikh Al-Buthi yang mengutip berbagai teks Al-Quran dan Hadits dalam memperjelas mutiara-mutiara hikmah Imam Ibnu Atha’illah tersebut. Tanpa bermaksud membandingkan dengan Al-Quran yang memang tak tertandingi, gaya bahasa Al-Hikam tanpa teks Al-Quran sudah begitu luar biasa.

Beberapa konsep tasawuf di dalam Al-Hikam barangkali sulit dipahami, dirasakan, dan apalagi diamalkan oleh orang-orang awam-tasawuf seperti saya. Konsep tajrid, misalnya, yang salah satu penjelasan sederhananya adalah mengosongkan segala urusan duniawi, baik di dalam hati, pikiran, dan perbuatan, untuk hanya beribadah kepada Allah. Ada orang-orang saleh yang telah selesai dengan dunianya sehingga mencapai derajat tajrid. Namun kebanyakan orang berada pada derajat asbab (terikat dengan hukum sebab akibat) yang harus bertungkus-lumus dengan urusan duniawi untuk memenuhi kebutuhannya. Baik derajat tajrid maupun asbab, menurut Imam Ibnu Atha’illah, sama-sama mulia sepanjang dipahami sebagai kehendak Tuhan yang harus diterima dengan penuh syukur. Konsep tajrid ini sulit dipahami. Untungnya, Syaikh Al-Buthi memberikan penjelasan yang mudah dipahami beserta contoh-contoh yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan modern. Beliau menggambarkan bila kita bekerja dari pukul 7 pagi sampai pukul 17 sore, maka kita berada pada derajat asbab. Di luar jam-jam tersebut, kita harus bersungguh-sungguh untuk ber-tajrid.

Kritik Hati

Mengaji Al-Hikam adalah ngaji ati, mengkaji hati. Membaca satu persatu mutiara hikmah yang disampaikan oleh Imam Ibnu Atha’illah seperti membaca dan menelisik kekotoran kita masing-masing di tempatnya yang paling tersembunyi sehingga bahkan kita sendiri pun jarang sekali menyadari. Kita yang seringkali berharap mendapat surga, terbebas dari neraka, atau memperoleh derajat tinggi di hadapan Tuhan berkat amal kebaikan yang kita lakukan, tiba-tiba diingatkan tentang bahaya mengandalkan amal kebaikan. Kita yang sering merasa bertemu Tuhan dalam kesunyian tahajud dan ibadah malam tiba-tiba diingatkan melalui petuah bijak—yang saya terjemahkan secara bebas: buat apa menyepi di kesunyian bila hati dan pikiran selalu bergejolak. Kita yang sering khusyuk berdoa agar rejeki dilancarkan, dianugerahi anak-anak saleh-salihah, atau dimasukkan ke surga, juga tak lepas dari peringatan beliau. Doa yang kita mohonkan, beliau mewanti-wanti, bisa jadi cerminan ketidakpercayaan kepada Allah. Kalau yakin Allah sudah mengatur dan mengetahui porsi rejeki rejeki kita, mengapa pula kita mendikte-Nya dengan permintaan yang menurut kita baik?

Melalui berbagai renungan yang menelisik potensi kesalahan hati, Imam Ibnu Atha’illah seperti mengajak kita untuk selalu was-was dan khawatir. Kita mungkin bisa waspada terhadap nafsu yang mengajak pada kejahatan, tetapi sering terlena terhadap pembajak hati yang membonceng setiap ajakan kebaikan.

Pada konteks inilah Syaikh Al-Buthi dengan tepat menggambarkan cakupan Al-Hikam. Menurut beliau, petuah-petuah bijak Al-Hikam meliputi tiga hal sekaligus: akidah, akhlak, dan seluk-beluk suluk (perjalanan menuju Tuhan). Dalam hal akidah, Al-Hikam banyak mengingatkan tentang perkara-perkara “sepele” di dalam hati yang dapat merusak akidah atau menyebabkan kemusyrikan. Setelah itu, selain akidah, akhlak juga tak kalah penting dalam menentukan “keberhasilan” hubungan dengan Tuhan. Ingatlah bahwa akhlak, bukan akidah, yang mengakibatkan Iblis tergelincir.

Membangun Optimisme

Meskipun di satu sisi menciptakan rasa was-was, khawatir, dan takut, mutiara-mutiara hikmah Al-Hikam juga membangun optimisme. Berikut ini beberapa contohnya.

Kepada mereka yang memiliki kewajiban untuk mengurusi perkara dunia tetapi begitu mendamba, orang Jawa menyebut kemrungsung, derajat tajrid sebagai capaian spiritualitas yang paling mulia, Imam Ibnu Atha’illah secara tidak langsung menegaskan bahwa bukan derajat tajrid yang menjadi ukuran keberhasilan pencapaian laku spiritualitas, melainkan penerimaan secara ikhlas posisi yang ditetapkan oleh Tuhan atas mereka. Sikap kemrungsung untuk mencapai derajat tajrid justru merupakan nafsu yang tampak samar, namun sangat berbahaya.

Kepada para pemilik doa-doa yang tak kunjung terkabul, Al-Hikam mengajak untuk selalu optimis, tak putus harapan, dan selalu berbaik sangka kepada Tuhan. Boleh jadi doa-doa itu dikabulkan Tuhan dengan cara dan sesuatu yang lebih baik, sesuai kehendak-Nya. Kepada mereka yang telanjur terjerembab ke dalam suatu maksiat, Al-Hikam tak memupus harapan: boleh jadi itu adalah maksiat terakhir mereka.

***

Akhirnya, dengan terang Al-Hikam dan beberapa kitab penjelas lainnya, disertai kewaspadaan (khauf) yang penuh pengharapan (raja’) dan pengharapan yang penuh kewaspadaan, mari kita bersama-sama menelisik jiwa dan menata hati dalam membangun hubungan cinta dengan Tuhan.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Advertisements

5 thoughts on “Hikam (Sebuah Pengantar)”

  1. “bukan derajat tajrid yang menjadi ukuran keberhasilan pencapaian laku spiritualitas, melainkan penerimaan secara ikhlas posisi yang ditetapkan oleh Tuhan atas mereka”
    Oase bagi derajat asbab, maturnuwun Yai

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s