NKRI Harga Mati. Agama Harga Nego?

Akhir-akhir ini NU begitu getol kembali berteriak NKRI harga mati. Ketika yang lain sibuk mengkampanyekan kebebasan harga mati, pluralisme harga mati, Hak Asasi Manusia (HAM) harga mati, antikorupsi harga mati, keadilan sosial harga mati, syariat harga mati, atau khilafah harga mati, NU begitu keras kepala dan kampungan dengan teriakan usang, itu-itu saja, sejak jaman empat lima: NKRI harga mati. Tidak hanya di media massa dan media sosial, NKRI harga mati juga diterakkan di pengajian-pengajian di desa-desa, oleh kyai dan santri kampung, juga oleh ibu-ibu muslimat dan fatayat sambil menyusui bayi.

Tentu saja banyak yang mencibir teriakan itu. Buat apa NKRI harga mati kalau rakyat miskin tetap tak terurus, rakyat miskin kota terus tergusur, dan korupsi merajalela? Bukankah teriakan NKRI harga mati adalah sebentuk chauvinisme, sama seperti ketika Hitler berteriak Deutschland über alles dan lalu terbantailah Kaum Yahudi? Menganggap NKRI harga mati bukankah otomatis menghargai agama dengan harga nego?

Saya tertarik dengan yang terakhir karena agamalah yang harus dijadikan dasar, bukan yang lain. Apa yang lebih tinggi dari agama sehingga bisa ditetapkan sebagai harga mati? Tidak ada. Menetapkan NKRI sebagai harga mati jelas merupakan sesat akidah yang harus diluruskan. Tampaknya mereka punya contoh dan panutan tertentu dalam menjadikan agama sebagai sesuatu yang bisa dinegosiasikan.

Nabi Muhammad dan Perjanjian Hudaibiyah

Dalam Perjanjian Hudaibiyah, Nabi Muhammad yang merupakan junjungan kaum muslimin dan simbol agama Islam menuruti begitu saja berbagai kemauan Suhail ibn Amr, juru runding kaum kafir Quraysy. Kehormatan agama Islam seperti dinomorsekiankan dalam perjanjian tersebut, baik pada saat proses penulisannya maupun pada substansinya.

Saat penulisan perjanjian, Nabi Muhammad menuruti apapun maunya Quraysy meskipun itu merendahkan kehormatan dirinya dan kaumnya. Ketika Nabi menyuruh Ali ibn Abi Thalib menulis bismillaahir rahmaanir rahiim, Suhail bin Amr, juru runding Quraysy, dengan pongah menolak dan meminta agar dituliskan bismikallaahumma (atas nama-Mu ya Allah) saja. Nabi menurut saja. Pun ketika akan dituliskan “Inilah yang sudah disetujui Muhammad Rasulullah dan Suhail ibn Amr”, Si Suhail lagi-lagi menolak dan meminta agar cukup ditulis “Inilah yang sudah disetujui Muhammad ibn Abdullah dan Suhail ibn Amr”. Dan lagi-lagi Nabi menurut begitu saja tanpa perlawanan. Kalimat basmalah dan kalimat Muhammad Rasululullah yang mencerminkan kebesaran Islam dihapus begitu saja dari rancangan perjanjian.

Isi perjanjian tampak seperti semakin mengabaikan kehormatan Islam. Menurut perjanjian itu, siapapun dari Kaum Quraysy yang menyeberang dan bergabung kepada Kaum Muhammad tanpa ijin walinya harus dikembalikan, tetapi tidak sebaliknya: golongan Muhammad yang menyeberang kepada Kaum Quraysy harus dibiarkan. Selain itu Muhammad dan kawan-kawan tidak boleh masuk Mekah tahun ini. Mereka baru boleh masuk pada tahun berikutnya. Dan Muhammad menyetujui perjanjian yang sangat tidak adil ini.

Akibat Perjanjian Hudaibiyah, kaum muslimin gagal menjalankan ibadah haji. Mereka yang sangat ingin menunaikan ibadah haji dan sebagian mereka yang rindu kampung halaman setelah bertahun-tahun terusir dari tanah air mereka, tiba-tiba gagal memasuki Mekah akibat perjanjian itu. Mereka harus balik kucing dan baru boleh mengunjungi Mekah pada tahun berikutnya. Padahal berbagai persiapan sudah dilakukan. Seluruh kaum muslimin juga sudah siap mengorbankan nyawa demi Nabi dan tujuan mulia mereka. Semua itu sia-sia begitu Kanjeng Nabi membuat Perjanjian Hudaibiyah.

Hampir semua pengikut Nabi jengkel dengan beliau. Bahkan karena saking jengkelnya, Umar bin Khattab curhat kepada Abu Bakar.

“Bukankah dia Rasulullah? Bukankah kita ini kaum muslim? Lalu mengapa kita mau direndahkan dalam urusan agama kita?”

Kyai NU dan Piagam Jakarta

Sebagaimana tercatat dalam sejarah, Rancangan Pembukaan UUD 1945 hasil rumusan Panitia Sembilan bentukan BPUPKI, yang diumumkan pada tanggal 22 Juni 1945, pada mulanya secara eksplisit mewajibkan pemeluk Islam untuk menjalankan syariat Islam melalui penetapan dasar “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Rancangan Pembukaan ini terkenal dengan sebuatan Piagam Jakarta. Kelompok-kelompok dari Indonesia bagian timur yang rata-rata memeluk agama Kristen menolak keras adanya kalimat ini. Kalau tujuh kata dalam kalimat itu—yaitu “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”—dipertahankan dalam Pembukaan UUD 1945, mereka akan memisahkan diri dari Indonesia. Setelah perdebatan sengit tujuh kata ini akhirnya dihapuskan dan diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Penghapusan tujuh kata tersebut tentu saja mengecewakan bagi umat Islam. Tetapi menurut sejarawan NU, Abdul Mun’im DZ, dalam bukunya Fragmen Sejarah NU Menyambung Akar Budaya Nusantara, orang-orang NU baik kyai yang terlibat dalam sidang perumusan Rancangan Pembukaan tersebut maupun yang ada di pesantren tidaklah kecewa. Demi menjaga keutuhan NKRI, pihak ulama NU mau mengorbankan tujuh kata tersebut. Artinya, agama, penerapan syariat Islam yang bahkan hanya untuk pemeluk-pemeluk Islam saja, bisa dinegosiasikan demi NKRI.

Oke, mungkin penerimaan terhadap penghapusan tujuh kata itu adalah suatu bentuk strategi belaka dalam menghadapi kondisi darurat sehingga ke depan NU akan berjuang untuk mengembalikannya. Tetapi ternyata yang terjadi tidak demikian. Belakangan ulama-ulama NU malah menerima Pancasila, lima dasar bernegara yang diambil dari Pembukaan UUD 1945 yang telah dibuang syariat Islamnya, sebagai asas tunggal. Itu dituangkan dalam Deklarasi Musyawarah Nasional (Munas) Ulama NU di Situbondo pada akhir tahun 1983. Munas bahkan bersedia menghapus asas Islam dan menerima asas Pancasila sebagai penggantinya meskipun tanpa menghilangkan prinsip akidah Islam ahlusunnah wal jamaah.

Penutup

Itulah sekelumit tokoh dan contoh yang sepertinya dibuat dasar oleh orang-orang NU untuk menjadikan agama sebagai harga nego: bahwa prinsip agama bisa dinegosiasikan. Makanya mereka enteng saja berteriak NKRI harga mati, padahal yang seharusnya dibuat harga mati adalah agama. Untuk melawan hal ini, tokoh dan contohnya mesti dilawan terlebih dahulu.

Sampeyan berani? Saya tidak, takut kualat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s