Manusia Indonesia dalam Pepaya California dan Sebagainya

Mochtar Lubis dalam buku Manusia Indonesia pernah menyematkan banyak penilaian negatif terhadap karakter manusia Indonesia: feodal, munafik, malas, penggerutu, peniru, boros, pendengki, dan seterusnya. Mungkin maksudnya adalah semacam otokritik. Tetapi saya akan menilai salah satu karakter manusia Indonesia dengan penuh puja. Manusia Indonesia itu sangat rendah hati, tak mau menyombongkan diri, dan cenderung menyembunyikan kelebihan-kelebihan yang mereka miliki. Kalau kelebihan-kelebihan, prestasi-prestasi, yang mereka miliki terpaksa harus dimunculkan demi kemaslahatan masyarakat, mereka akan berusaha sekuat mungkin menyembunyikan fakta bahwa kelebihan-kelebihan dan prestasi-prestasi itu adalah kepunyaan mereka. Kalau perlu dengan menimbulkan kesan bahwa semua itu berasal dari orang lain.

Ada memang pesohor-pesohor dunia yang juga menyembunyikan diri mereka. DJ Marshmello yang beberapa waktu lalu turut dalam kehebohan “om telolet om” selalu menyembunyikan identitasnya di balik topeng. Grup band Gorrilaz menyembunyikan diri di balik kartun dua dimensi. Jati diri nyata pesohor-pesohor ini sampai saat ini belum diketahui. Tetapi yakinlah, penyembunyian diri manusia Indonesia yang akan saya sajikan beberapa contohnya di bawah ini jauh lebih mulia daripada pesohor-pesohor itu. Kalau upaya untuk berendah hati tak bisa dicapai dengan menyembunyikan diri, manusia Indonesia akan dengan senang hati melekatkan nama atau identitas mereka pada hal-hal yang buruk sembari merelakan identitas orang lain melekat pada hal-hal yang baik, unggul, dan super.

Pepaya California

Saya merasakan kegawatan yang mencekam saat melihat banyak orang berjualan pepaya california di pinggir-pinggir jalan. Negeri ini makin dibanjiri produk-produk impor, tidak hanya di supermarket modern, tetapi juga di pasar-pasar tradisional, di pinggir-pinggir jalan. Setelah ibu-ibu di kampung akrab dengan jeruk mandarin yang murah meriah sebagai suguhan atau bingkisan hajatan, mereka kini mulai menggilai pepaya california yang bentuknya mungil namun manis dan enak rasanya. Saya sempat menegur istri yang berniat membeli pepaya itu agar membeli saja buah-buah lokal, tetapi dia berkilah tidak apa-apa sekali-kali mencoba. Dan, akhirnya kami sekeluarga pun menikmati pepaya itu. Rasanya memang manis, enak, dan teksturnya keset, tidak mblenyek.

Ya, pepaya california. Orang-orang menyebutnya begitu. Otak instan saya langsung menyamakannya dengan apel washington. Sama-sama diimpor dari Amerika Serikat. Pengetahuan ini terus bercokol di otak saya sampai suatu saat saya iseng mencari-cari informasi soal pepaya california di internet. Ternyata pepaya california sama sekali bukan berasal dari California. Ia adalah varietas pepaya hasil pemuliaan yang dilakukan selama bertahun-tahun oleh ilmuwan asli Indonesia di Institut Pertanian Bogor (IPB). Nama sebenarnya adalah pepaya callina, tetapi di pasar ia menjadi pepaya california.

Oh my dog, betapa luhurnya akhlak bangsa ini. Demi menjaga sikap rendah hati dan menjauhkan diri dari kesombongan, mereka rela menamakan varietas pepaya hasil pemuliaan anak-anak mereka dengan nama luar negeri. Mereka menyembunyikan diri di balik kesan palsu bahwa pepaya california adalah pepaya impor.

Merek “Asing”

Karena ini berurusan dengan merek, maka tak elok saya menyebutkannya secara eksplisit. Menyanjung dikira promosi, mengkritik bisa panjang urusan. Banyak produk asli Indonesia yang mereknya terkesan seperti merek asing. Tas dan sandal gunung yang saya pakai mereknya keminggris, padahal itu merek dalam negeri Indonesia, asli buatan anak Indonesia, bukan dibuat di dalam negeri oleh anak perusahaan asing. Sepeda angin yang dipakai anak saya asli buatan dan merek Indonesia, tetapi sekilas seperti merek asing. Ada juga air minum berkualitas premium dan sudah diekspor ke berbagai negara, asli 100 persen produksi Indonesia, tapi mereknya seperti pakai Bahasa Inggris. Bahkan karena dikemas dalam botol yang eksklusif, produk minuman air putih itu oleh beberapa orang sempat dihebohkan sebagai minuman keras impor. Banyak contoh lain: produk elektronik, gerai makanan, pakaian, handuk, celana jeans, dan sebagainya.

Semua contoh di atas juga menunjukkan betapa rendah hatinya bangsa Indonesia. Bahkan saking rendah hatinya, tidak hanya bermerek “asing”, bintang iklan yang digunakan untuk mempromosikan produk seringkali juga orang-orang asing, meskipun sasaran iklannya orang-orang Indonesia. Bangsa Indonesia tidak ingin memperlihatkan kebesaran yang ujung-ujungnya mendatangkan kesombongan.  Ini jauh berbeda dengan bangsa-bangsa lain yang suka pamer dan sok-sokan. Dengan penuh kesombongan mereka melekatkan jati diri bangsa mereka pada produk-produk yang mereka buat. Jepang dan Korea begitu jumawa melekatkan identitas bangsa pada sepeda motor atau mobil kreasi mereka yang jamak kita kendarai. Begitu juga India. Korea dan Cina juga angkuh memamerkan kekoreaan dan kecinaan pada telepon genggam atau gawai karya mereka. Kesombongan telah membuat mereka enggan menggunakan istilah-istilah keminggris.

Na’udzubillah dari kesombongan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s