Lelaki Malang

Jasad lelaki itu tergeletak begitu saja sejak kematiannya, dua hari sebelumnya. Kerabatnya tak ada yang berani mengubur. Ketika beberapa orang hendak menyalati, sontak sekelompok orang yang lain melarang. Jasadnya tidak boleh disalati, pun tak boleh dimakamkan di pekuburan kaum muslimin. Ketika pihak keluarga berusaha membawa jasad itu ke pemakaman muslimin, orang-orang di sepanjang jalan melempari mereka dengan batu. Tidak hanya itu, akses menuju pemakaman diblokade.

“Ia tidak boleh dikubur di sini. Ia hanya pantas dikubur bersama orang-orang Yahudi.”

Sungguh malang lelaki itu. Sudah tewas dibunuh lantaran pertikaian politik, tak juga mendapatkan hak sebagai seorang muslim yang wajib dipenuhi oleh muslim-muslim lain. Sebuah kemalangan yang bagi para lawan dan pendengkinya tidak dianggap sebagai kemalangan, tetapi pembalasan setimpal bagi pengkhianat dan penoda agama.

Maka demikianlah, lelaki malang itu akhirnya dikuburkan di pemakaman Kaum Yahudi. Belakangan, setelah rezim penguasa berganti, daerah pemakaman itu dimasukkan sebagai pemakaman muslimin.

***

Di kampung kami, ceritanya lain. Setiap muslim, bagaimanapun kualitas keislamannya, asal masih ber-KTP Islam dan diakui muslim oleh keluarga, akan mendapat haknya sebagai muslim. Mbah Karjo, misalnya, sebut saja demikian, sepanjang hidupnya tidak pernah kelihatan menunaikan rukun Islam selain—konon kata para sesepuh—membaca dua kalimat syahadat saat pernikahannya. Itu pun dengan pelafalan yang kacau dan perlu pengulangan berkali-kali sampai pada tingkat di mana penghulu bisa menoleransi kekacauannya. Ia memang beragama Islam, tapi islamnya sebatas di KTP. Bahkan sepanjang hidupnya malah sering sinis dan nyinyir dengan ajaran Islam.

Salah satu serangannya terhadap ajaran Islam adalah ini:

“Untuk apa nyembah Pengeran (Tuhan) pakai salat lima waktu segala. Yang memberi hidup adalah Pengeran. Pengeran itu peng-pengane doran. Asal kita mempeng (bersungguh-sungguh, bekerja keras) mengayunkan doran (tangkai cangkul) untuk bertani, maka kita bisa hidup.”

Kaum santri santai-santai saja menghadapi serangan tersebut. Tak ada fatwa darah Mbah Karjo halal ditumpahkan. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Toh beberapa anak dan cucunya sudah mulai nyantri (menunaikan salat lima waktu).

Wong edan gak usah direken, “ kata Mbah Kyai disambut gelak tawa para santri.

Ketika Mbah Karjo sakit menjelang ajal, anaknya meminta tolong Mbah Kyai dan para santri untuk membacakan Surat Yasin. Rupanya Mbah Karjo sulit meninggal. Dengan pembacaan Surat Yasin, diharapkan ia segera mendapat keputusan: lekas sembuh atau meninggal dengan cepat dan lancar, tanpa naza’ yang terlalu panjang. Mbah Kyai tidak perlu waktu lama untuk menjawab permintaan anak Mbah Karjo. Setelah mendapat kepastian darinya bahwa Mbah Karjo seorang muslim, Mbah Kyai bersama tim segera meluncur untuk membaca Surat Yasin.

Bacaan Surat Yasin belum sampai separuh jalan, Mbah Karjo meninggal. Ia meninggal dengan prosesi lengkap sebagaimana muslim lainnya di kampung kami: dimandikan, dikafani, disalati, ditalqin, dikubur, dan ditahlili.

***

“Lalu, siapakah lelaki malang itu?” tanya anakku.

“Belajarlah yang tekun. Kelak kalau kau sudah siap, bacalah Tarikhur Rusul wal Muluk atau Tarikhul Umam wal Muluk karya ahli sejarah dan ulama tafsir terkemuka, Imam At-Thabari. Kisah lelaki malang itu tertulis di sana, lengkap dengan sumber-sumber beritanya.”

“Iya, siapa lelaki malang itu?”

“Dia dijuluki Dzun-Nurain karena menikahi dua puteri Kanjeng Nabi: Ummu Kultsum dan Ruqayyah. Dia adalah khalifah ketiga…”

Anakku pun mengacungkan tangan dengan bangga campur tak percaya.

“Sayyidina ‘Utsman bin Affan??!!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s