Tabayyun

Tidak seperti biasanya, Jumat itu saya tidak (ter)tidur waktu khutbah. Saya dengarkan dengan seksama khutbah Jumat itu, saya rekam, soal tabayyun:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu (Al-Hujurat [49]:6)”

Meskipun terdapat perbedaan detail peristiwa, semua riwayat dalam kitab-kitab tafsir seperti At-Thabari, Al-Qurthubi, dan Ibnu Katsir menegaskan bahwa yang menjadi latar belakang turunnya ayat di atas adalah peristiwa penyampaian berita tidak valid oleh Al-Walid ibn ‘Uqbah kepada Baginda Nabi SAW. Al-Walid ibn ‘Uqbah yang diutus oleh Baginda Nabi SAW untuk memungut zakat dari para wajib zakat Bani Mushthaliq (suku Arab yang memeluk Islam tak lama sebelum Perjanjian Hudaibiyah), bukannya kembali menghadap Kanjeng Nabi dengan hasil pungutannya, tetapi malah menyampaikan berita palsu yang bisa berakibat sangat serius: Bani Mushthaliq telah murtad dan hendak memerangi Nabi.

Bagaimana utusan Nabi bisa seperti itu? Pada masa pra-Islam, menurut beberapa catatan, Al-Walid ibn ‘Uqbah dan Bani Mushthaliq pernah saling bermusuhan. Tak lama sebelumnya, sebelum memeluk Islam, Bani Mushthaliq juga pernah berperang terhadap Nabi. Barangkali karena itulah ketika seluruh warga Bani Mushthaliq bersuka ria bersiap menyambut kedatangannya sebagai utusan Kanjeng Nabi, ia justru menyangka mereka sedang mempersiapkan perang. Belum lagi berjumpa dengan Bani Mushthaliq, ia langsung kembali menghadap Kanjeng Nabi dan membuat laporan keliru berdasarkan prasangkanya.

Atas tindakan gegabahnya itu, secara tidak langsung Alquran menyebut Al-Walid ibn ‘Uqbah sebagai orang fasik, sebutan yang di berbagai ayat hanya disematkan kepada orang-(orang) durhaka, munafik, yang tidak mendapat petunjuk, atau bahkan mereka yang mengingkari ayat-ayat-Nya. Kesimpulan bahwa Alquran menyebut Al-Walid ibn ‘Uqbah sebagai orang fasik setidaknya terdapat pada Tafsir Al-Qurthubi. Kesimpulan ini dibantah keras oleh Imam Fakhruddin Ar-Razi: penyebutan fasik untuk beliau jelas sangat salah, sebab beliau “hanya” berbuat keliru (khilaf), terlalu mengedepankan prasangka, dan tentu tanpa bermaksud mengadu domba ketika menyampaikan berita tidak valid. Dua pendapat ini kemudian ditengahi oleh ulama kontemporer, Dr. Wahbah Zuhaili. Menurut beliau, Al-Walid ibn ‘Uqbah jelas bukan orang fasik, bahkan ia sangat kredibel di mata Rasulullah SAW sehingga dipercaya sebagai utusan. Penyebutan fasik kepadanya “hanya” karena penyampaian berita palsu bertujuan untuk memberikan peringatan sekeras-kerasnya kepada seluruh kaum beriman agar tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu atas informasi yang mereka terima dari sumber-sumber fasik sebelum melakukan klarifikasi atau verifikasi. Bantahan Imam Fakhruddin Ar-Razi dan penjelasan Dr. Wahbah Zuhaili ini justru menohok kita dalam-dalam: bila Al-Walid ibn ‘Uqbah yang sangat kredibel (terpercaya) di mata Rasulullah saja bisa “dijuluki” fasik “hanya” karena menyampaikan informasi tidak valid, bagaimana dengan kita yang sama sekali tak terjamin kredibel tetapi begitu mudah menerima dan membagi informasi yang tidak jelas kebenarannya?

Ayat di atas memerintahkan kita untuk bertabayyun, meneliti kebenaran dengan seksama, atas informasi yang disampaikan oleh orang fasik. Kriteria fasik di sini adalah tingkat kebohongan, bukan suku, agama, ras, haters atau followers, atau tokoh yang dibenci atau disanjung. Semakin sering menebar berita bohong atau informasi tidak valid berarti semakin fasik. Terkait hal ini, Imam Al-Qurthubi bahkan melontarkan kritik terhadap mereka yang berpendapat bahwa seluruh kaum muslimin pasti adil, jujur, dan kredibel, kecuali terbukti sebaliknya (sehingga informasi yang disampaikan boleh langsung diterima tanpa klarifikasi dan verifikasi). Ayat ini, menurut beliau, membantah pendapat tersebut. Dalam disiplin ilmu jarh wa ta’dil (ilmu kritik periwayat hadits), jarh lebih diutamakan daripada ta’dil, menelisik sifat-sifat negatif dan kadar kebohongan penyampai riwayat harus didahulukan daripada menerima begitu saja asumsi bahwa dia jujur dan adil. Sekali seorang muslim (ya, muslim, karena non-muslim tidak bisa meriwayatkan hadits Nabi) diketahui menyampaikan informasi tidak valid atau apalagi berbohong, hadits apapun yang diriwayatkannya akan selalu dinilai cacat.

Akhirul kalam, kalau kita tidak boleh menjadi korban informasi palsu yang disebarkan oleh orang fasik, maka apa ya boleh kita menjadi orang fasik yang menyebarkan informasi yang jelas mengandung kebencian dan makian, jelas mengundang permusuhan, belum jelas kebenarannya?

***

Seusai khutbah, pada rakaat kedua salat Jumat, smartphone seorang jamaah di sebelah saya berdering. Salat saya yang tidak khusyuk menjadi semakin tidak khusyuk. Saya membayangkan smartphone yang memudahkan orang menjadi korban sekaligus pelaku kefasikan informasi: menelan mentah-mentah berita bohong, gambar-gambar penuh cacian, lalu menyebarkannya dengan sekali sentuh tombol auto-fasik. Korban informasi fasik, lalu menjadi fasik, kemudian melahirkan fasik-fasik baru. Amal jariyah yang luar biasa!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s