Alquran dan Skripsi Mahasiswa Teknik

Meskipun dalam berbahasa—bahasa apapun: entah Arab, Inggris, Indonesia, atau Jawa—tersedia makna konotatif, kata-kata tertentu yang memiliki lebih dari satu makna, atau berbagai gaya bahasa majazi yang membuat berbahasa menjadi indah, dalam sebuah skripsi sarjana teknik semua itu haram digunakan, kecuali mungkin di bagian kata-kata mutiara atau ucapan terima kasih. Bahkan demi menjaga objektifitas dan keterukuran, penggunaan subjek pelaku dalam kalimat aktif juga sangat terlarang. Misalnya kalau ada kalimat “Kami melakukan percobaan ini pada pagi hari yang sejuk dan cerah”, maka hampir pasti akan dicoret dan diganti “Percobaan dilakukan pada pukul 07.00 WIB pada suhu lingkungan 25 derajat celcius.” Semuanya harus terukur atau minimal dapat diindera. Dalam memahami sekripsi teknik pun harus demikian: setiap kata dan kalimat harus dimaknai secara denotatif, makna harfiah. Frasa rejim aliran fluida, misalnya, hanya boleh dimaknai sebagai pola mengalirnya material fluida dari satu titik ke titik lain dan tidak boleh dimaknai seperti rejim pemerintahan atau aliran pemikiran.

Yang disinggung di sini hanyalah skripsi sarjana teknik, karena itulah satu-satunya skripsi yang pernah dibuat penulis dengan penuh perjuangan dan doa. Jadi penulis mengalaminya sendiri. Penulis tidak bisa berkomentar kalau skripsi-skripsi lain nasibnya juga sama, atau kalau misalnya ada seorang dosen pembimbing yang mengijinkan seorang mahasiswa teknik menyusun skripsi teknik dengan kata-kata puitis.

Lalau apa hubungannya dengan Quran? Haha. Tidak ada. Penulis hanya mengajak Anda membayangkan bagaimana Quran dipahami dengan cara seperti kita memahami skripsi mahasiswa teknik: tidak ada makna konotatif, tidak ada kata yang punya banyak makna, dan tidak ada gaya bahasa majazi.

Allah Bersalawat kepada Nabi SAW

Dalam Surat Al-Ahzab, surat ke-33 Alquran ayat 56 (QS 33:56, untuk penulisan surat dan ayat selanjutnya digunakan singkatan seperti ini), disebutkan bahwasanya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi SAW. Arti selengkapnya ayat tersebut sesuai terjemahan Kementerian Agama RI adalah: Sesungguhnya, Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya [1]. Andaikata ayat ini dipahami sebagaimana skripsi sarjana teknik harus dipahami, maka bersalawat yang dilakukan oleh Allah, malaikat, dan orang-orang beriman adalah perbuatan yang sama. Salawat ketiganya adalah sama. Tetapi ternyata Quran tidak dipahami seperti itu.  Tidak perlu menengok aneka macam kitab tafsir, cukup dengan melihat catatan kaki terjemahan tersebut, kita bisa mendapati bahwa satu kata kerja dalam satu kalimat bisa memiliki makna berbeda untuk pelaku yang berbeda. Dinyatakan dalam catatan kaki tersebut: salawat dari Allah artinya memberi rahmat, dari malaikat memohonkan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa agar diberi rahmat seperti dengan perkataan Allahumma shalli ala Muhammad [1].

Menolong Allah

Kalau diartikan secara harfiah seperti saat memahami teks skripsi, maka akan banyak dijumpai perintah untuk menolong Allah melalui frasa “menolong Allah”, misalnya pada QS 22:40, 47:7, 57:25, dan 59:8.  Padahal, astaghfirullah, Allah tidak butuh apa pun, tidak butuh pertolongan. Manusia dan segala makhluklah yang butuh pertolongan-Nya.

Namun alhamdulillah pada terjemahan Alquran Kementerian Agama RI, semua ayat di atas tidak diterjemahkan secara harfiah. Misalnya klausa wa layanshuranna ‘l-LLaahu man yanshuruhu dalam QS 22:40 tidak langsung diterjemahkan begitu saja dengan Allah pasti akan menolong orang yang menolong-Nya, tetapi ditambahkan kata agama sehingga menjadi Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya [1]. Penambahan kata agama di dalam tanda kurung jelas menunjukkan bahwa kata tersebut sebenarnya tidak tercantum secara eksplisit dalam ayat.

Kitab-kitab tafsir seperti Jalalain, Al-Qurthubi, atau At-Thabari juga melakukan hal yang sama: menambahkan kata din (agama) dalam menafsirkan frasa menolong Allah. Yang menarik adalah kitab-kitab itu tidak menjelaskan panjang lebar terkait penambahan kata din (agama) tersebut. Barangkali ini karena mengasumsikan semua pembacanya sudah cukup dewasa dan mafhum untuk tidak memaknai ayat-ayat tersebut secara harfiah. Yang memberikan sedikit catatan adalah Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Mafaatihul Ghaib. Menurut beliau, beberapa ulama berpendapat bahwa yang dimaksud orang yang menolong-Nya adalah orang yang menegakkan agama-Nya. Mereka berpendapat seperti itu karena menolong Allah secara hakikat adalah bertentangan dengan akal.

Daripada menggunakan frasa “menolong Allah”, mengapa teks Alquran tidak langsung menyebut agama secara eksplisit: “menolong agama Allah”? Ah, mungkin pertanyaan seperti inilah yang membuat berbahasa menjadi tidak indah. Bukankah ajakan “minum kopi” akan menjadi sangat ribet dan tidak indah bila diganti “minum air panas yang dicampur serbuk biji kopi sangrai”.

Tangan Allah

Frasa tangan Allah dan berbagai turunannya di dalam Alquran terdapat di beberapa tempat yaitu QS 3:26 (biyadika ‘l-khair, di tangan Engkaulah segala kebajikan), 3:73 (innal fadhla bi yadi ‘l-Laah, sesungguhnya karunia itu di tangan Allah),  36:83 (bi yadihii malakuutu kulli syai’, di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu), 48:10 (yadu ‘l-Laahi fawqa aydiihim, tangan Allah di atas tangan-tangan mereka), dan 67:1 (biyadihii ‘l-mulk, yang menguasai (segala) kerajaan). Semua terjemahan penggalan ayat-ayat ini bersumber dari terjemahan Kementerian Agama RI [1]. Kecuali QS 67:1, kata Arab yad pada ayat-ayat tersebut seluruhnya diterjemahkan begitu saja sebagai tangan tanpa keterangan tambahan, misalnya dengan menambahkan catatan kaki. Terjemahan-terjemahan ini perlu dibandingkan dengan beberapa literatur tafsir Alquran.

Terjemahan Kementerian Agama RI [1] langsung menampilkan makna konotatif kata Arab yad pada klausa biyadihii ‘l-mulk  pada QS 67:1 sehingga diartikan sebagai kekuasaan (menguasai). Ini sejalan dengan Tafsir Jalalayn yang memaknai klausa tersebut sebagai di dalam kuasa-Nyalah segala kerajaan.

Klausa biyadika ‘l-khair pada QS 3:26 diterjemahkan begitu saja dengan di tangan Engkaulah segala kebajikan tanpa catatan kaki sebagai penjelasan tambahan. Mungkin penerjemah merasa klausa ini sudah cukup jelas menunjukkan makna konotatif dari kata tangan, yang semakna dengan kata tangan pada kalimat semisal: keputusan ada di tanganmu. Berbeda dengan terjemahan ini, Tafsir Jalalayn menutup rapat-rapat kemungkinan kata tangan dimaknai ala skripsi mahasiswa teknik. Biyadikal khair, menurut tafsir tersebut, berarti karena kuasa-Mulah segala kebajikan (dan keburukan). Klausa innal fadhla bi yadi ‘l-Laah pada QS 3:73 yang sudah dianggap cukup jelas dengan terjemahan sesungguhnya karunia itu di tangan Allah ternyata juga masih perlu ditambah penjelasan oleh Ibnu Katsir. Maksud klausa itu menurut beliau adalah bahwa segala sesuatu terjadi karena kuasa-Nya.

Makna tangan pada QS 36:83 dirasa cukup jelas oleh Terjemahan Kementerian Agama RI maupun beberapa tafsir klasik (Jalalayn, Al-Qurthubi, Ibnu Katsir) sehingga tidak memerlukan penjelasan tambahan.

Untuk kata Arab yad pada QS 48:10, beberapa literatur tafsir memberi penjelasan tambahan. Tafsir Al-Qurthubi, misalnya, menukil beberapa penafsiran bagi klausa tangan Allah di atas tangan-tangan mereka: anugerah Allah melebihi upaya mereka dalam memenuhi janji, hidayah Allah melampaui ketaatan mereka, atau kekuatan dan pertolongan Allah melebihi kekuatan dan pertolongan mereka. Namun demikian kata ini ternyata diterjemahkan begitu saja, tanpa keterangan tambahan, dengan tangan pada terjemahan Kementerian Agama RI [1].  Ini berbeda dengan terjemahan versi sebelumnya yang menyertakan catatan kaki cukup panjang:

“Orang yang berjanji setia biasanya berjabatan tangan. Cara berjanji setia dengan Rasul ialah meletakkan tangan Rasul di atas tangan orang yang berjanji itu. Maksud tangan Allah di atas mereka ialah bahwa mereka seakan-akan membai’at Allah, dan bahwa berjanji dengan Rasulullah sama dengan berjanji dengan Allah yang mengharuskan untuk dipenuhi. Hendaklah diperhatikan bahwa Allah Mahasuci dari segala sifat-sifat yang menyerupai makhluk-Nya” [2].

Adapun terjemahan selengkapnya QS 48:10 tersebut adalah sebagai berikut:

“Bahwa orang-orang yang berjanji setia kepada kamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri; dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar” [1].

Penerjemahan terdahulu tampaknya sangat mengkhawatirkan kalau-kalau tangan Allah pada ayat tersebut dimaknai apa adanya ala skripsi mahasiswa teknik: tangan sebagaimana tangan anggota tubuh manusia.

Kursi Allah

QS 2:255, atau yang terkenal dengan sebutan Ayat Kursi, berbicara tentang kursi Allah. Apakah ini bisa dimaknai secara denotatif dan harfiah sebagai tempat duduk? Terjemahan Kementerian Agama RI memberikan catatan kaki: sebagian mufasir mengartikan dengan ilmu Allah, ada pula yang mengartikan dengan kekuasaan-Nya, dan ada juga yang menafsirkan lain [1].

Kursi pada ayat tersebut dalam sebuah riwayat Ibnu Abbas, sebagaimana disebut pada Tafsir Al-Qurthubi dan At-Thabari, dimaknai sebagai ilmu Allah. Bagaimana kursi bisa bermakna ilmu? Ya, ia adalah makna majazi yang dipinjam dari kurrasah (kursikurrasah), yaitu bendel kitab yang memuat aneka pengetahuan. Makna kursi sebagai kekuasaan Allah tampaknya sudah cukup mafhum di kalangan pengujar Bahasa Indonesia, jadi tidak perlu diperjelas panjang lebar lagi.

Ada pula yang memaknai kursi bukan secara majazi. Artinya memang ada ciptaan Allah yang disebut kursi. Ia bukan ungkapan metaforis atas ilmu atau kekuasaan. Ada riwayat yang menyebut kursi sebagai sebuah ciptaan Allah yang berada di bawah ‘arsy dan di atas langit ketujuh. Ada pula yang menyebut kursi Allah sebagai ‘arsy itu sendiri. Riwayat-riwayat lain memberikan gambaran inderawi kursi tersebut. Bahkan ada yang memaknai kursi sebagai tempat telapak kaki. Makna-makna seperti ini memang sangat berpotensi menggiring pada pemahaman bahwa Tuhan serupa dengan makhluknya: duduk di kursi, meletakkan telapak kaki di kursi, dan sebagainya, dan semua itu tentu terjadi pada ruang tertentu. Oleh sebab itu para ulama memberikan catatan penting untuk makna non-majazi kursi ini. Imam Baihaqi, dalam Tafsir Al-Qurthubi, mewanti-wanti bahwa makna tersebut tidak lantas menunjukkan bahwa Allah berada dalam ruang tertentu. Syaikh Abdullah Al-Harari, dalam Idzhaaru Aqidatis Sunniyyah, menyatakan bahwa Allah tidak menjelaskan apa hakikat kursi dan arsy, keduanya cukup diimani sebagai ciptaan-Nya saja. Titik.

Allah Bersemayam di Atas ‘Arsy

“Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” [1] Ini adalah terjemahan bagian awal QS 7:54.  Khusus untuk bersemayam, kata ini merupakan terjemahan atas kata istawa. Terjemahan ini memberikan catatan kaki sebagai berikut: bersemayam di atas ‘Arsy ialah suatu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan keagungan Allah dan kesucian-Nya [1].

Terjemahan di atas, ditambah catatan kaki seperti itu, sungguh menggoda kita untuk memahami Alquran secara harfiah sebagaimana sebuah skripsi mahasiswa teknik harus dipahami: Tuhan memang bersemayam di atas ‘arsy. Apa sih bersemayam itu? Kalau belum yakin dengan makna bersemayam yang secara populer biasa kita pahami, mari menengok Kamus Bahasa Indonesia. Di kamus tersebut bersemayam bermakna duduk, berkediaman, tinggal, tersimpan.

Memang ada yang memahami secara harfiah bahwa Tuhan bertempat di atas ‘arsy [10]. Hal ini karena disokong pemahaman harfiah atas beberapa ayat dan hadits. QS 16:50, misalnya, oleh kalangan ini diterjemahkan sebagai mereka takut kepada Rabb mereka yang (berada) di atas mereka. Preposisi di atas (fawqa) pada ayat itu dimaknai begitu saja secara literal sebagai berada di atas, meskipun para mufasir sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Al-Qurthubi memaknai fawqa dalam ayat tersebut sebagai berkuasa atas. Sifat Allah yang Mahatinggi (al-‘aliy) yang disebutkan di berbagai tempat di Alquran oleh kalangan ini juga dijadikan landasan bahwa Allah itu berada di atas, di tempat yang tinggi. Demikian pula berdasarkan berbagai kata tanzil yang bermakna diturunkan (misalnya tanziil ‘l-kitaab min ‘l-Laah…, diturunkan kitab ini dari Allah…, QS 40:2), kalangan ini juga menyimpulkan Allah itu berada di atas karena segala sesuatu pasti diturunkan dari yang ada di atas.

Sebuah hadits yang menceritakan bagaimana Nabi SAW menanyakan di manakah Allah berada (aina Allah) kepada seorang budak perempuan, lalu oleh budak itu dijawab Allah ada di langit, kemudian beliau menyatakan bahwa budak itu adalah perempuan yang beriman, bagi kalangan ini cukup menjelaskan bahwa Allah memang ada di langit. Banyak ulama menilai bahwa hadits tersebut tergolong idhtirab (kacau) sehingga cukup aneh bila kalangan yang biasa menuntut hadits yang sangat sahih untuk amaliyah-amaliyah “sepele” justru menggunakannya sebagai dalil bagi masalah yang sangat krusial: akidah. Selain itu, peristiwa mi’raj Nabi SAW atau disyariatkannya mengangkat tangan ketika berdoa juga disebut sebagai petunjuk kuat bahwa Allah berada di atas, di atas langit.

Memaknai QS 7:54 atau ayat dan hadits lain secara harfiah sehingga menunjukkan bahwa Allah bertempat di atas, di atas langit ketujuh, di atas ‘arsy, sesungguhnya sangat problematis karena bertabrakan dengan ayat-ayat lain. Ada ayat yang menyebut Dialah Allah yang ada di langit dan di bumi (QS 6:3). Ayat lain menyatakan Dia Tuhan di langit dan Tuhan di bumi (QS 43:84), Dia ada di mana-mana sehingga Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dialah yang keempatnya (QS 58:7), ke mana pun menghadap di sanalah wajah Allah (QS 2:115), atau bahkan Allah itu sangat dekat dengan manusia sehingga lebih dekat daripada jarak antara manusia dan urat leher mereka sendiri (QS 50:16). Atau jika disyariatkannya mengangkat tangan ketika berdoa dianggap sebagai petunjuk bahwa Tuhan berada di atas, bagaimana dengan syariat yang mengharuskan salat menghadap kiblat, ke Ka’bah?

Lalu bagaimana para ulama memahami “Allah bersemayam di atas ‘Arsy”?

Ada dua pendekatan dalam memahami hal ini: tafwidh dan ta’wil (takwil). Dua pendekatan inilah yang dinilai sahih menurut mayoritas ulama ahlus sunnah wal jamaah. Tafwidh adalah menyerahkan sepenuhnya makna sebuah kata atau kalimat dalam ayat Alquran kepada Allah, kata atau kalimat itu dibiarkan apa adanya sebagaimana yang termaktub di dalam Alquran, tidak menggunakan kata atau kalimat lain sebagai pembanding atau penjelas, tidak menggunakan tafsir, dan bahkan tidak menggunakan terjemahan atas kata/kalimat tersebut, yang semua ini dilakukan untuk mensucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk-Nya. Sementara takwil adalah memaknai kata atau kalimat dalam Alquran menurut makna konotatifnya. Sebagaimana tafwidh, takwil juga dilakukan untuk menghindarkan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya.

Pendekatan tafwidh, sesuai catatan Ibnu Katsir, antara lain dipilih oleh Imam Malik, Al-Auza’I, Asy-Syafii, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka memperlakukan kata istawa (bersemayam) dalam QS 7:54 sebagaimana adanya, tanpa menjelaskan atau mempertanyakan bagaimana gambarannya (takyif), tanpa menyerupakan Allah dengan yang lain (tasybih), meskipun eksistensi kata istawa itu sendiri tidak dinegasikan (ta’thil). Makna harfiah bersemayam (istawa) yang terbersit pada hati dan pikiran seseorang jelas tidak bisa diterapkan pada Allah. Tafsir Al-Qurthubi juga memberikan gambaran mengenai tafwidh atas ayat tersebut: ulama terdahulu memang tidak memungkiri bahwa Allah bersemayam (istawa) di atas ‘arsy, tetapi mereka menegasikan makna harfiah apa pun yang menjelaskan istiwa’. Makna harfiah istawa yang mengindikasikan bahwa Allah berada pada ruang tertentu atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain harus dihindari. Pendekatan inilah yang juga dipilih oleh Dr. Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir: beriman pada istiwa’ tanpa penyerupaan Allah dengan lain-Nya (tasybih), tanpa pertanyaan bagaimana Allah ber-istiwa’, tanpa mempersepsikan bahwa Allah berada pada ruang tertentu, dan menyerahkan hakikat istiwa’ kepada Allah. Dalam konteks penerjemahan Alquran dalam Bahasa Indonesia, segala makna harfiah kata bersemayam yang lazim kita pahami atau yang terdapat dalam Kamus Bahasa Indonesia sebagaimana tersebut di atas—yang digunakan untuk menerjemahkan kata istawa— harus diabaikan.

Pendekatan takwil banyak dipilih oleh ulama kontemporer (khalaf). Mungkin ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman yang belakangan merebak terhadap aspek tekstualitas yang ditekankan pada pendekatan tafwidh. Dengan pendekatan takwil, istiwa’ di atas ‘arsy bermakna bahwa Allah berkuasa atas ‘arsy. Sementara ‘arsy sendiri juga ditakwil oleh sebagian ulama sebagai kerajaan dan kekuasaan, sehingga dengan demikian istiwa’ di atas ‘arsy dapat dimaknai bahwa Allah menguasai secara mutlak segala kekuasaan dan kerajaan [11]. Imam Al-Qurthubi juga berpendapat bahwa istiwa’ yang secara harfiah berarti berada di tempat yang tinggi merupakan sebuah ibarat akan tingginya kemuliaan, sifat, dan kekuasaan Allah.

Jadi baik dengan pendekatan tafwidh maupun takwil, QS 7:54 tidak bisa dipahami secara harfiah ala skripsi mahasiswa teknik.  Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa Allah berada di atas, di atas langit, di atas ‘arsy.

Penutup

Berminat menyamakan Alquran dengan skripsi mahasiswa teknik? Astaghfirullah. Jangan, Sayang!

Wallaahu a’lam.

Rujukan:

  1. —-, 2011, Al-Qur’anul Karim Al-Qur’an dan Terjemah Dilengkapi dengan Kajian Usul Fiqh (Revisi Terjemah oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama Republik Indonesia, Tahun Tashih: 2011), Sygma Publishing, Bandung.
  2. —-, 2005, Al-Qur’an dan Terjemahnya Al-Jumanatul Ali (Revisi Terjemah oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an Departemen Agama Republik Indonesia, Tahun Tashih: 2004), CV Penerbit J-ART, Bandung.
  3. Fakhruddin Ar-Razi, Tafsiir ‘l-Fakhr ‘l-Razi (Mafaatihul Ghaib).
  4. Jalaluddin Al-Mahalli & Jalaluddin As-Suyuthi, Tafsir ‘l-Jalaalayn.
  5. Abu ‘l-Fida’ Ismail ibn Umar ibn Katsir, Tafsiir ‘l-Qur’an ‘l-‘Adziim (Tafsir Ibnu Katsir).
  6. Abi Abdillah Muhammad ibn Ahmad ibn Abi Bakr Al-Qurthubi (Imam Al-Qurthubi), Al-Jaami’ li Ahkaam ‘l-Qur’an wa ‘-Mubayyin li Maa Tadhammanahu min ‘l-Sunnah wa Ay ‘l-Furqan (Tafsir Al-Qurthubi).
  7. Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir At-Thabari, Tafsiir ‘l-Thabari Jami’ ‘l-Bayaan ‘an Ta’wiil Ay ‘l-Qur’aan (Tafsir At-Thabari).
  8. Syaikh Abdullah Al-Harari, 1997, Idzhaarul Aqiidatis Sunniyyah, cetakan ketiga, Beirut: Daarul Masyaari’.
  9. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008, Kamus Bahasa Indonesia
  10. Kalangan yang memahami istiwa’ secara harfiah misalnya dapat dilihat di https://rumaysho.com/910-di-manakah-allah-2.html
  11. Dr. Wahbah Musthafa Zuhaili, 2009, At-Tafsiir ‘l-Muniir fi ‘l-Aqiidah wa ‘l-Syari’ah wa ‘l-Manhaj, Darul Fikr, Damsyik.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s