Hudaibiyah

“Saya sungguh jengkel dengan ulama-ulama kita. Mereka tidak tegas dengan penista agama. Bukannya mengutuk, malah meminta umat Islam memaafkannya. Mbah Kyai Maimoen Zubair menyuruh kita tidak memperpanjang perkara karena si penista sudah meminta maaf, Muhammadiyah berlepas diri dengan melarang atribut dan simbol organisasi itu dibawa-bawa saat demo 4 November nanti, NU malah melarang underbouw-underbouwnya untuk ikut serta dalam demo bela Islam itu. Semuanya meminta menjaga kedamaian dan keutuhan NKRI, menyerahkan urusan pada yang berwenang, tetapi menomorsekiankan kehormatan Islam dan ukhuwah Islamiyah. Saya tidak menemukan ghirah Islam pada ulama-ulama kita itu. Saya sangat jengkel dan kecewa.”

“Baginda Nabi Muhammad SAW pernah melakukan yang mungkin menurutmu jauh lebih menjengkelkan.”

“Lha kok bisa?”

“Itu terjadi pada Perjanjian Hudaibiyah, perjanjian damai antara Kaum Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan Kaum Quraysy Mekah. Jengkel yang pertama karena mereka gagal menjalankan ibadah haji. Bayangkan, mereka yang sangat ingin menunaikan ibadah haji dan sebagian mereka yang rindu kampung halaman setelah bertahun-tahun terusir dari tanah air mereka, tiba-tiba gagal memasuki Mekah akibat perjanjian itu. Mereka harus balik kucing dan baru boleh mengunjungi Mekah pada tahun berikutnya. Padahal berbagai persiapan sudah dilakukan. Kanjeng Nabi sudah mengajak serta kabilah-kabilah Arab non-muslim berziarah ke Baitullah bersama mereka untuk menunjukkan bahwa perjalanan yang dilakukan adalah murni untuk ziarah, bukan invasi kaum muslimin terhadap Quraysy Mekah. Seluruh anggota rombongan juga sudah siap mengorbankan nyawa demi Nabi dan tujuan mulia mereka. Semua itu sia-sia begitu Kanjeng Nabi membuat Perjanjian Hudaibiyah. Apa ini tidak sangat menjengkelkan?”

“Proses penulisan perjanjian juga sangat menjengkelkan. Kanjeng Nabi menuruti apapun maunya Quraysy meskipun itu merendahkan kehormatan beliau dan kaumnya. Ketika Nabi menyuruh Sayyidina Ali menulis ‘bismillaahir rahmaanir rahiim’, Suhail bin Amr, juru runding Quraysy, dengan pongah menolak dan meminta agar dituliskan ‘bismikallaahumma (atas nama-Mu ya Allah)’ saja. Nabi menurut saja. Pun ketika akan dituliskan ‘Inilah yang sudah disetujui Muhammad Rasulullah dan Suhail ibn Amr’, Si Suhail lagi-lagi menolak dan meminta agar cukup ditulis ‘Inilah yang sudah disetujui Muhammad ibn Abdullah dan Suhail ibn Amr’. Dan lagi-lagi Nabi menurut begitu saja tanpa perlawanan.”

“Isi perjanjian jauh lebih menjengkelkan. Menurut perjanjian itu, siapapun dari Kaum Quraysy yang menyeberang dan bergabung kepada Kaum Muhammad tanpa ijin walinya harus dikembalikan, tetapi tidak sebaliknya: golongan Muhammad yang menyeberang kepada Kaum Quraysy harus dibiarkan. Selain itu Muhammad dan kawan-kawan tidak boleh masuk Mekah tahun ini. Mereka baru boleh masuk pada tahun berikutnya. Dan Muhammad menyetujui perjanjian yang sangat tidak adil ini.”

“Hampir semua rombongan Kanjeng Nabi jengkel dengan beliau. Bahkan karena saking jengkelnya, Sayyidina Umar bin Khattab curhat kepada Sayyidina Abu Bakar: ‘bukankan dia Rasulullah? Bukankah kita ini kaum muslim? Lalu mengapa kita mau direndahkan dalam urusan agama kita?’. Untung curhatnya Sayyidina Umar kepada Sayyidina Abu Bakar yang sikapnya selalu mendinginkan, bukan malah manas-manasi.”

“Ah, itu kan strategi politik tingkat tinggi Kanjeng Nabi?”

“Prettt. Itu kan komentarmu sekarang. Setelah baca berbagai analisis, kamu tinggal ambil hikmahnya. Coba kalau hadir pada saat itu, kemungkinan besar kamu akan menulis status tentang Kanjeng Nabi di Facebook: pemimpin umat yang tidak tegas.”

#Indonesiadamai

#Satuindonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s