Maaf di Idul Fitri, Haruskah?

Sepanjang pengetahuan penulis yang amat pendek dan terbatas ini, tidak ada perintah Al-Quran maupun hadits untuk secara khusus meminta maaf di Hari Raya Idul Fitri. Alih-alih perintah untuk meminta maaf, yang dapat dijumpai di Al-Quran adalah anjuran untuk memberi maaf, tetapi itu pun—sekali lagi—tidak spesial untuk Idul Fitri.

Perintah untuk meminta maaf (permintaan oleh si penganiaya kepada si teraniaya atau keluarganya agar penganiayaannya dihalalkan) dapat dijumpai di dalam sebuah hadits Nabi SAW [1]:

من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه

“Orang yang pernah menzhalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari dimana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal shalih, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezhalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal shalih, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zhalimi”

Namun  perintah meminta maaf ini juga tidak dikhususkan di Hari Raya Idul Fitri. Demikian kesimpulan sementara penulis. Karena kesimpulan sementara ini dilahirkan dari pengetahuan yang amat terbatas, tentu dengan segala keterbukaan dan kerendahan hati tulisan ini akan menerima koreksi dan revisi apabila ditemukan nash Al-Quran atau hadits yang menyatakan sebaliknya.

Maaf diturunkan dari bahasa Arab ‘afw (‘afā-ya’fū-‘afw). Tetapi kata ini (dan berbagai variasinya) dalam Al-Quran tidak selalu bermakna maaf sebagaimana lazim dipahami oleh pengujar Bahasa Indonesia atau yang dalam Kamus Bahasa Indonesia diartikan sebagai  ampun; pembebasan dari tuntutan (kesalahan, kekeliruan, dan sebagainya) [2]. Selain makna tersebut, ia antara lain bisa berarti meninggalkan polemik dengan ahli kitab untuk sementara waktu (QS 2:109; 5:13), kelebihan harta yang tidak lagi digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehingga perlu disedekahkan (QS 2:219), atau pembebasan pembayaran maskawin yang telah dijanjikan pada saat akad nikah apabila sepasang suami istri bercerai sebelum melakukan hubungan seksual (QS 2:237).

Sulitnya Memberi Maaf

Ketiadaan perintah Al-Quran untuk meminta maaf tentu bukan berarti meminta maaf itu tidak diwajibkan atau dilarang oleh syariat Islam. Pertama, ini hanya berarti bahwa meminta maaf adalah sesuatu yang diharuskan oleh akal sehat dan nurani bagi mereka yang melakukan kesalahan atau penganiayaan kepada orang lain. Apalagi kewajiban yang dituntut oleh akal sehat ini juga disokong oleh hadits Nabi SAW sebagaimana tersebut di atas. Kedua, dibanding meminta maaf yang secara akal sehat sudah menjadi keharusan, memberi maaf sebenarnya jauh lebih sulit dilakukan. Memberi maaf termasuk tiga perbuatan sulit yang menurut Al-Quran menjadi ciri khusus orang-orang bertakwa, yaitu bersedekah ketika berada dalam kondisi lapang maupun sempit, menahan amarah meskipun sebenarnya mampu dan layak untuk menumpahkan amarah, dan memaafkan orang lain meskipun ia berhak untuk tidak memaafkan (QS 3:134). Saking sulitnya dilakukan, kebaikan memberi maaf oleh Al-Quran ditekankan setelah pemberian hak kepada si teraniaya untuk membalas secara setimpal penganiayaan yang dilakukan oleh si penganiaya (misalnya dalam QS 2:178 atau QS 42:40).

Sulitnya memberi maaf bahkan juga pernah dialami Sayyidina Abu Bakar, khalifah pertama yang dikenal penyabar itu. Dikisahkan bahwa beliau secara rutin memberikan bantuan ekonomi kepada seorang kerabatnya dari kalangan muhajirin yang kurang mampu, Misthah ibn ˈUtsatsah. Pada saat tersebar fitnah bahwa Sayyidah Aisyah, putri beliau yang menjadi istri Kanjeng Nabi SAW, berselingkuh dengan Shafwan bin Muaththal, beliau menerima kabar bahwa si Misthah ini menjadi salah satu penyebar fitnah. Sontak Sayyidina Abu Bakar menghentikan bantuan ekonomi yang selama ini diberikan kepada Misthah. Tidak hanya itu beliau juga bersumpah tidak akan memberikan bantuan kepadanya selamanya. Misthah yang dirugikan dengan keputusan Sayyidina Abu Bakar ini kemudian memberikan klarifikasi bahwa dia tidak ikut menyebarkan fitnah, hanya pernah mendengar saja ketika ada sekelompok orang menggunjing Sayyidah Aisyah.

“Tetapi kau ikut tertawa dan menyepakati fitnah itu”, sergah Sayyidina Abu Bakar, menandakan bahwa beliau tidak akan mencabut tindakan dan sumpahnya.

Kisah di atas dicatat oleh Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an sebagai latar peristiwa turunnya QS 24:22. Hal senada juga dicatat oleh penafsir-penafsir lain, seperti Jalaluddin As-Suyuthi atau Fahruddin Ar-Razi. Ayat tersebut secara tidak langsung memerintahkan Sayyidina Abu Bakar untuk memberikan maaf, berlapang dada, bersikap welas asih, dan tetap memberikan bantuan kepada mereka yang telah menyakiti. Menurut penulis, ini sungguh perintah yang amat berat.

Idul Fitri dan Momen Bermaafan

Apakah beratnya memberikan maaf berbanding lurus dengan besarnya kesalahan?  Menurut pengalaman saya yang mungkin sangat subyektif, jawabannya: tidak selalu. Dalam interaksi sehari-hari, seringkali kita menyakiti hati orang lain dengan tanpa sadar serta tidak diniatkan untuk menyakiti. Celakanya, dalam budaya yang selalu mengedepankan harmoni dalam pergaulan, orang yang kita sakiti cenderung memilih diam dan memendam sakit hatinya. Dengan demikian, memberi maaf juga menjadi sulit dilakukan bahkan untuk kesalahan-kesalahan “kecil”. Karena alasan-alasan inilah dibutuhkan momen untuk saling meminta dan memberi maaf, salah satunya pada saat Idul Fitri: momen untuk memudahkan hal-hal yang sulit.  “Mudahkan, jangan dipersulit. Gembirakan, jangan dibuat lari (ketakutan)”, begitu sabda Nabi [3]. Alasan-alasan ini pulalah yang menepis tuduhan: minta maaf kok nunggu Idul Fitri.

Bahkan momen itu bukan saat Idul Fitri saja. Tradisi Islam Nusantara kaya akan momen bermaafan. Saat berpamitan usai bertamu, orang-orang tua kita lazim saling bermaafan. Di pesantren ada tradisi bermaafan tiap malam Jumat atau Jumat pagi. Di surau-surau atau masjid-masjid, para jamaah saling bermaafan seusai salat berjamaah. Tak ada yang enggan bermaafan karena merasa tidak ada yang perlu dimintakan maaf. Dan seperti tradisi ceramah sehabis tarawih, tradisi ceramah subuh, tradisi pesantren kilat, tradisi mabit (bermalam bersama di masjid untuk melaksanakan serangkaian ibadah), atau tradisi buka puasa bersama, tradisi-tradisi bermaafan tentu saja tidak dimaksudkan untuk membuat syariat baru.

Catatan:

[1] Hadits riwayat Abu Hurairah r.a., dibukukan dalam Sahih Bukhari, Juz 3, Kitaabul Madzalim.

[2] Kamus Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

[3] Hadits riwayat Anas r.a., dibukukan dalam Sahih Bukhari, Juz 1, Kitaabul ‘Ilm.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s