Tikus

Pagi tadi istri saya melaporkan perkembangan kenakalan si tikus. Ya, tikus dalam makna yang sebenar-benarnya, bukan tikus yang dimaksud Iwan Fals dalam Tikus-tikus Kantor. Dalam pesan pendeknya, ia menceritakan bagaimana tikus mulai menggerogoti saringan pembuangan bak cuci piring di dapur kami. Kok bisa mamalia pengerat itu melewati pipa buangan yang kecil dan berkelok-kelok sebelum akhirnya mengerat tutup sekaligus saringan bak cuci piring. Benar-benar hewan yang cerdas dan menyebalkan.

Rupanya tikus tak pernah lelah berikhtiyar mencari cara masuk ke rumah kami. Ia benar-benar teguh mengamalkan perintah Tuhan agar jangan pernah berputus asa. Pada malam hari, ketika kami lelap tertidur, ia bisa menembus barikade dua buah batu bata yang kami gunakan untuk menutup lubang pembuangan air dari tempat cuci pakaian. Batu bata lalu kami ganti batu paving yang jauh lebih berat. Puji Tuhan, tikus tak bisa menembusnya. Tapi masalah ternyata belum selesai. Beberapa hari kemudian, ia mengubah sasaran. Tikus mulai menggerogoti tutup sekaligus saringan lubang pembuangan air dari kamar mandi. Langsung saja lubang itu kami tutup dengan batu paving. Rumah kami pun rasanya aman selama beberapa hari dari gangguan tikus yang terkutuk, hingga datang laporan istri pagi tadi.

Sebelumnya tikus juga telah membuat ulah menyebalkan. Mungkin karena semua lahan di perumahan kami telah tertutup batu paving atau keramik, tikus-tikus membuat lubang-lubang di sedikit tanah yang kami sisakan untuk taman. Lubang-lubang itu sepertinya mereka jadikan pintasan agar bisa berkeliaran di jalan atau mengais-ngais sesuatu di bak-bak sampah pinggir jalan. Langkah kami untuk mengatasinya terbilang sederhana: tutup lubang-lubang itu dengan pasir. Berbeda dengan tanah biasa, kata istri saya berteori, pasir susah untuk dilubangi dan dibuat terowongan-terowongan. Kalau nekat, tikus-tikus itu bisa terkubur pasir sendiri. Walhasil taman sempit di depan rumah kami sementara ini tidak lagi dilubangi oleh tikus-tikus nakal.

Meskipun masalah tikus sementara ini bisa diatasi, kami harus terus waspada. Tikus hewan yang cerdas dan sepertinya terus mengembangkan kecerdasannya. Saya pernah membaca artikel bagaimana tikus bisa masuk ke rumah melalui lubang kloset. Setelah membaca artikel itu, setiap kali buang air besar pikiran saya selalu parno: jangan-jangan tikus menyundul pantat atau menggigit yang lain-lain, hiii! Untuk kekhawatiran yang satu ini, saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar sudi menjaga pantat saya dan sekitarnya. Sementara untuk menjaga agar tikus tidak masuk rumah, artikel itu punya solusi yang patut untuk dicoba: menyumbat lubang kloset dengan sikat WC.

Sebenarnya pengalaman kami berhubungan dengan tikus tidak melulu tentang kecerdasannya. Ada suatu masa di mana kami merasa bersalah dengan tikus. Sebelum tinggal di rumah kami sekarang, sewaktu istri saya hamil tua, di suatu malam yang lengang, tiba-tiba tidur kami terganggu oleh cericit tikus yang masuk ke dalam bufet melalui celah kaca yang terbuka. Sebagai suami yang istrinya sedang hamil, saya tidak boleh memburu dan membunuh hewan apa pun, termasuk tikus. Tetapi membiarkan tikus itu bergerak leluasa juga sangat berbahaya. Ia bisa berkeliaran ke mana-mana dan menggigit kami. Saya menutup rapat bufet itu. Tikus tidak bisa keluar. Pagi hari kami mengamati bufet dan tikus yang terkurung di dalamnya. Sepertinya telah berjam-jam tikus itu mencari jalan keluar. Sampai keesokan harinya lagi tikus itu tak kunjung bisa keluar. Wajahnya murung, tubuhnya lemas, ia sudah diam pasrah. Beberapa jam kemudian tikus itu mati. Saya tidak membunuhnya. Setidaknya, saya tidak membunuh secara langsung.

Kejadian tikus terkurung dan mati itu selanjutnya saya lupakan. Apa pentingnya mengenang tikus yang mati? Tidak penting sama sekali. Namun lebih kurang dua bulan kemudian, saat proses persalinan anak saya, kejadian itu muncul dalam ingatan sebagai rasa bersalah dan penyesalan. Istri saya masuk rumah sakit sehabis subuh, subuh keesokan harinya anak saya belum juga lahir. Orang-orang lain yang baru masuk, bayi mereka sudah lahir tak lama kemudian. Hati saya galau bukan main, tetapi istri saya jauh lebih dari itu: menanggung galau dan kesakitan yang teramat sangat dalam waktu yang sangat lama. Saat itulah saya merasa kualat dengan tikus yang saya kurung di bufet. Apa yang menimpa tikus itu sepertinya menimpa kami juga: calon bayi kami terkurung, kesulitan menemukan jalan keluar.

Saat panik dan kesusahan ingat Tuhan, tapi saat gembira melupakan-Nya. Itulah sifat umumnya manusia, termasuk saya. Saya terus memohon ampun kepada Tuhan karena telah mengurung makhluk-Nya sampai mati. Saya berdoa agar proses kelahiran anak saya segera dilancarkan.

Alhamdulillah, menjelang maghrib, akhirnya anak saya lahir dengan sehat dan selamat. Sebuah kelahiran yang ditandai dengan jebolnya plafon rumah sakit akibat ulah seekor kucing.

(Surabaya, 29 Dzulqa’dah 1437)

Advertisements

1 thought on “Tikus”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s