Arjuna

Pagi itu Arjuna termenung sendiri di atas ranjangnya. Di balik perban putih, tersembunyi wajahnya yang memancarkan duka demi duka. Rumah sakit mewah dengan segala fasilitas yang memanjakannya tak mampu sedikit pun membuatnya bahagia. Suster-suster dianggapnya terlalu cerewet; mereka sering berlama-lama waktu menyuntik, ia curiga bahwa itu semua mereka lakukan untuk melihat sisa-sisa keseksian yang masih terlihat di bokongnya. Dokter yang merawatnya dianggap tak berperasaan, terlalu dingin, dan memperlakukannya sebagaimana seorang montir memperbaiki mesin. AC rumah sakit  sering membuatnya menggigil kedinginan, tapi begitu dimatikan, ia merasa kegerahan. Pendeknya, semua serba tak mengenakkan baginya.

Selama ini ia dikenal sebagai lelananging jagat, lelaki tampan yang mengguncang dunia. Gadis-gadis negeri Amarta, juga negeri-negeri lain, banyak yang memasang fotonya di kamar tidur atau di kamar mandi mereka. Saat ia berkunjung ke sebuah daerah bersama Yudhistira, gadis-gadis harus berdesak-desakan, bahkan sampai ada yang mati, hanya demi melihat wajahnya. Setiap kali ia ke kahyangan, para bidadari berebutan mengintipnya dari balik tembok surga, selir-selir para dewa akan melambai-lambaikan tangannya sambil memberikan “cium jauh”. Tetapi sepertinya semua itu akan segera berakhir. Tiga hari yang lalu, seekor kuda menyepak mukanya. Wajahnya yang tampan itu menjadi rusak tak karuan. Gigi-giginya banyak yang patah dan hilang. Kuda nakal itu memang selanjutnya mendapat hukuman yang setimpal. Arjuna telah memanahi tubuh kuda itu sebagaimana ia memanahi tubuh Bisma di medan Kurusetra. Tidak puas sampai di situ saja, Bima pun ikut turun tangan. Dengan bersemangat, ia menggebuk-gebukkan gadanya pada tubuh hewan yang telah mati itu. Yudhistira yang biasanya sangat sabar dan sangat antikekerasan bahkan berteriak-teriak, “Ayo, gebuk terus, Dik Bima!” Tetapi, meskipun kuda itu telah mati, muka Arjuna tetap saja rusak. Arjuna harus dibawa ke rumah sakit.

Arjuna bertambah murung. Masa depan muram segera terbentang di depannya. Ia tak akan lagi dipuja-puja oleh para gadis. Para kekasihnya akan pergi satu per satu. Ia tak akan lagi disebut lelananging jagat. Orang-orang Jawa tak akan mengadakan prosesi “membelah kelapa gading” sewaktu tingkeban sebagai doa agar calon anaknya kelak setampan Arjuna atau secantik Srikandi. Mereka mungkin akan berpaling pada Yusuf atau Maryam. Tragis, benar-benar tragis. Apakah artinya Arjuna tanpa ketampanan. Sebagai tokoh yang mahir memanah? Tidak. Banyak wayang lain yang pandai memanah. Sebagai seorang satria dan pahlawan? Tidak. Wayang-wayang bermuka jelek seperti Hanuman, Sugriwa, atau Semar juga terkenal sebagai para satria dan pahlawan, bahkan melebihi Arjuna.

Tiba-tiba ia bangkit dari ranjang. Dengan muka yang masih diperban ia menuju kamar mandi. Di situ ada cermin besar. Ia mendekati cermin itu dan kemudian berdiri tegak di depannya. Seolah tak yakin kalau wajahnya benar-benar telah rusak, ia membuka seluruh perban yang membalut mukanya. Maka tampaklah wajahnya yang rusak. Hidungnya ringsek. Bibir atasnya hilang separuh sehingga gigi-giginya yang hilang pun kelihatan jelas. Jidatnya memar-memar. Wajah tampan Arjuna itu kini telah menjadi topeng, atau bahkan lebih buruk dari topeng.

“Brengsek! Cermin brengsek! Kau menghinaku, ya? Aku sudah tahu kalau wajahku jelek, tapi masih juga kauberi tahu.”

Arjuna sangat marah pada cermin yang ada di depannya. Ia memelototi cermin itu.

“Jujur? Kaubilang itu kejujuran. Omong kosong! Kau tidak seratus persen jujur. Kau selalu memutarbalikkan kenyataan, yang kanan menjadi kiri dan yang kiri menjadi kanan. Itukah yang kausebut kejujuran?”

Arjuna lalu mengepalkan tangan kanannnya. Ia hendak memukul cermin itu.

“Baik, walaupun ada pepatah ‘buruk muka cermin dibelah’, aku akan tetap menghancurkanmu. Tekadku sudah bulat, niatku sudah kuat, takkan surut hanya karena pepatah-petitih gombal macam itu.”

Sebentar kemudian Arjuna memukul-mukul cermin itu. Cermin itu hancur.

***

“Jangan bersedih Dik Arjuna, sekarang ada teknologi yang bisa merekayasa wajah jelek menjadi tampan, wajah tampan menjadi lebih tampan lagi, atau dari satu bentuk wajah menjadi bentuk wajah yang lain.  Namanya teknologi bedah plastik. Jadi, Dik Arjuna tak perlu lagi memecahi cermin-cermin yang ada di rumah sakit ini. Kita ini kaum Pandawa, Dik. Kita ini sudah ditakdirkan untuk menjadi ksatria yang harus menjunjung tinggi kehormatan, kemuliaan, sopan santun, kebenaran, dan keadilan. Kita harus menjadi teladan yang baik bagi kaum awam. Jadi nggak pantas rasanya kalau seorang ksatria memukul-mukul cermin, itu bisa mengurangi derajat kita sebagai kaum beradab.”

Arjuna diam saja mendengar Yudhistira menasihatinya sambil memperlihatkan brosur-brosur iklan bedah plastik yang ia dapatkan dari pihak pengelola rumah sakit. Arjuna lebih asyik bermain-main dengan lamunannya sendiri. Tampaknya sang Arjuna sedang ngambek dengan apa saja dan siapa saja, termasuk dirinya sendiri.

“Sudahlah, Dik! Buat apa menyusahkan diri sendiri. Bukankah teknologi telah menjawab semua yang engkau risaukan? Atau barangkali engkau khawatir kalau masyarakat tahu keadaanmu yang sebenarnya? Tidak, Dik. Masyarakat tidak tahu dan insyaallah tidak akan pernah tahu. Koran-koran, tabloid-tabloid selebritis, radio-radio, dan tivi-tivi tidak tahu keadaanmu sekarang. Yang mereka tahu hanyalah bahwa Arjuna adalah seorang lelaki yang tampan, gagah berani, dan menjadi pujaan wanita sejagat. Bahkan, para dokter dan perawat yang ada di sini tidak tahu kalau Adik ini Arjuna. Mereka mengenalmu sebagai Jacky, saudara jauh para pandawa.”

Arjuna diam sejenak sebelum kemudian menjawab dengan datar, tanpa ekspresi.

“Bukankah Pandawa adalah orang-orang jujur dan selalu menjunjung tinggi kejujuran. Bahkan demi sebuah kejujuran terhadap musuh sekalipun, kita pernah mempertaruhkan istri kita—Drupadi—di meja perjudian. Saya kira sampai saat ini kita masih bersepakat untuk setia dengan kejujuran.”

“Tapi bukankah Adik berhasil membunuh Resi Bisma dengan menggunakan sebuah rekayasa. Walaupun barangkali Adik tidak menyadari hal itu, tapi jelas ada rekayasa yang membantu Adik dalam membunuh Resi Bisma. Jadi, sekali-sekali kejujuran perlu dikorbankan demi sesuatu yang lebih besar: keadilan dan kebenaran. Saat ini tidak hanya kejahatan saja yang menggunakan tipu muslihat dan rekayasa, untuk menegakkan kebenaran dan keadilan terkadang kita juga harus memakainya.”

Arjuna diam saja. Ia ingin sekali bersikap jujur, tapi ia juga ingin agar kejujuran itu tidak menyakitinya. Maka ia pun terpaksa merelakan mukanya untuk dioperasi plastik.

***

Dalam sebuah konferensi pers, Arjuna yang sudah berubah wajahnya tampak memberikan keterangan kepada para wartawan. Ia menjelaskan panjang lebar kepada mereka mengenai hal ihwal mengapa ia menghilang selama empat bulan terakhir ini. Maklum, ia adalah seorang public figur di mana dirinya bukanlah lagi milik dirinya sendiri, tetapi milik umum. Setiap gerak-geriknya selalu diawasi oleh masyarakat. Ukuran sepatunya, merek rokok yang ia hisap setiap hari, makanan kesukaannya, bahkan ukuran celana dalamnya, bukan lagi menjadi rahasia pribadi, tetapi sudah menjadi pengetahuan umum bagi khalayak ramai. Karena itulah, ketika akhir-akhir ini ia tidak pernah muncul di depan publik, masyarakat menjadi bertanya-tanya. Isu pun kemudian berkembang dengan semarak dan berwarna-warni. Ada yang mengatakan kalau ia sedang berbulan madu dengan kekasih terbarunya di sebuah pulau, di Selat Amarta. Para ahli politik menduga dengan penuh keyakinan kalau Sang Arjuna sedang melaksanakan tugas rahasia ke luar negeri. Banyak pula yang tidak mau menduga-duga ke mana perginya Sang Arjuna, mereka ini lebih asyik menghubung-hubungkan kepergiannya dengan nomor lotre yang akan keluar: tanggal, bulan, dan tahun kepergiannnya dalam berbagai versi penanggalan adalah angka-angka lotre yang menjanjikan uang berlimpah-limpah.

“Saudara-saudara yang budiman, dalam kesempatan kali ini, saya ingin menjelaskan dengan sejelas-jelasnya perihal ketidakmunculan saya di depan khalayak ramai selama empat bulan terakhir ini. Tapi sebelumnya, saya ingin meminta maaf kepada seluruh masyarakat di dunia karena ketidakmunculan saya itu telah memunculkan keresahan di mana-mana, spekulasi bertebaran di sana sini. Atas hal itu, sekali lagi, saya mohon maaf. Sebenarnya saya tidak pergi ke mana-mana sebagaimana yang dipersangkakan oleh banyak orang. Saya tidak pergi ke sebuah pulau dengan kekasih terbaru atau kekasih terlama saya. Saya juga tidak pergi ke luar negeri untuk menjalankan misi rahasia sebagaimana yang dibicarakan oleh para politikus negeri ini. Selama empat bulan ini saya menyendiri di sebuah gua—maaf, saya tidak bersedia menyebut nama dan di mana gua tersebut berada. Di situ, saya mempelajari sebuah kitab setebal 2000 halaman: “Kebenaran: Sebuah Kabar yang Kabur”. Sedikit tentang isi kitab ini barangkali dapat saya jelaskan. Menurut kitab ini, kebenaran bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri dan dapat dilihat hitam-putihnya dengan jelas. Konsep kebenaran tidaklah mewakili kebenaran itu sendiri, sebagaimana kata pensil mewakili sejenis alat tulis yang berbahan baku karbon, tetapi harus dilihat siapa yang mengungkapkan kebenaran itu, dalam situasi apa kebenaran itu diungkapkan, apa latar belakangnya, tujuannya, dan sebagainya. Jadi, kebenaran itu relasional, bukan ontologis. Lebih gila lagi, kitab ini menyatakan bahwa sangat boleh jadi kebenaran hanyalah ungkapan dari orang-orang yang kalah bertarung, tertindas, tergencet, tergusur, dan tak kebagian kekuasaan. Menurut saya, buku ini adalah ajaran kaum Kurawa: ajaran sesat, tak boleh disebarluaskan di masyarakat. Cukup saya saja yang membacanya.”

“Membaca buku ini membutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi. Tidak bisa dilakukan sambil lalu saja. Makanya saya butuh menyendiri di sebuah gua. Sekali lagi, saya mohon maaf.”

Kemudian Arjuna pun mengakhiri penjelasannya.

Sebagaimana jamaknya konferensi pers, setelah panjang lebar penjelasan resmi dari Arjuna, acara dilanjutkan dengan tanya jawab. Puluhan wartawan tampak begitu antusias untuk mengajukan pertanyaan. Seorang wartawan dari luar negeri tiba-tiba mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat mengejutkan khalayak ramai, dan tentu saja: Arjuna:

“Apakah Anda benar-benar seorang Arjuna: Arjuna yang menjadi lelananging jagad, Arjuna yang telah biasa kami kenal. Kalau Anda benar-benar seorang Arjuna, mengapa Anda tidak seperti Arjuna yang dulu. Arjuna yang dulu kami kenal adalah Arjuna yang berwajah sangat tampan, tetapi Arjuna yang ada di hadapan kami saat ini adalah Arjuna yang lebih tampan lagi. Arjuna yang dulu adalah Arjuna yang tidak suka membaca buku dan berfilsafat, tetapi Arjuna yang ada di hadapan kami saat ini adalah Arjuna yang rela meninggalkan keramaian, menyepi dalam sebuah goa, dan berhenti memikat para bidadari, demi membaca buku setebal 2000 halaman dan kemudian memberi kuliah filsafat nihilisme. Singkatnya, kami ini curiga kalau-kalau Anda ini bukan Arjuna.”

Arjuna tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Meskipun demikian, ia mencoba memberikan penjelasan.

“Saya ini Arjuna asli, seratus persen asli. Saya pernah berguru di Padepokan Sokalima, pada Resi Dorna. Saya ini Arjuna, putra Pandu, adik kandung Bima dan Puntadewa, serta kakak dari Nakula dan Sadewa. Kalau kalian tidak percaya, silakan bertanya kepada mereka semua. Saya pandai memanah dan kepandaian ini bisa saya buktikan sekarang juga.”

“Ah, Sampeyan ini terlalu naïf”, sambung seorang peserta press release, “bukankah biodata Arjuna sudah sering dipublikasikan. Bahkan ukuran celana dalamnya pun sudah diketahui khalayak ramai. Ketika Anda membuktikan diri Anda sebagai Arjuna dengan menyebutkan serangkaian data pribadi Arjuna, bukankah ini sebuah kelucuan? Mengenai kepandaian memanah, sekali lagi, Anda bersikap naïf. Kepandaian itu bukan hanya milik Anda. Karna, Robin Hood, atau Rambo, adalah tokoh-tokoh yang juga sangat pandai memanah. Bahkan Rambo dikenal sebagai tokoh yang pandai menggunakan anak panah yang dilengkapi dengan bom. Jadi, kami sekarang bertambah curiga kalau Anda ini bukan Arjuna. Anda tidak mirip dengan Arjuna.”

Sampai di sini, Arjuna tidak bisa berkata apa-apa. Wajahnya berkeringat dan tegang. Saat itulah, ia merasa bahwa ia tidak lagi bisa mengenali dirinya sendiri.

“Sudahlah Saudara, tunjukkanlah jatidiri Anda. Jadilah diri sendiri. Jadi diri sendiri, kok, tidak pede, sih!”

“Ya, mengapa harus memaksa menjadi Arjuna, kalau diri Anda jauh lebih baik dan lebih tampan daripada Arjuna, “ sambung seorang wartawati yang sedari tadi tampak terkesima dengan Arjuna yang tidak lagi dipercayai sebagai Arjuna.

“Ya, sekarang kami tidak ambil pusing apakah Anda ini Arjuna atau bukan. Yang jelas Anda lebih baik daripada Arjuna, dan kami akan mengganti yang kurang baik dengan yang lebih baik. “

“Ya, mulai detik ini kami akan membuang Arjuna. Mungkin setelah ini, gadis-gadis di seantero dunia ini akan membuang foto Arjuna dari kamar tidur atau kamar mandi mereka dan menggantinya dengan foto Anda. Anda harus percaya diri dan bangga!”

“Ya, mulai saat ini kita mempunyai tokoh baru yang lebih baik daripada Arjuna. Tokoh itu bernama …. Oh, ya, siapa nama Anda?”

“Permadi,” jawab Arjuna dengan ragu-ragu.

“Ah, Anda masih juga tidak pede menjadi diri sendiri. Bukankah Permadi itu tidak lain dari Janaka, sama dengan Dananjaya, sama dengan Arjuna, tokoh yang hendak kita lengserkan karena tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman. Anda bukan Permadi, bukan Janaka, bukan pula Arjuna. Anda adalah Anda. Oke, kalau Anda tidak mau menyebutkan nama Anda, kami terpaksa akan memberi Anda sebuah nama.”

“Tapi masalahnya saya ini memang Arjuna, “ sergah Arjuna.

Tapi sergahan Arjuna tak didengarkan.

“Ya, bagaimana kalau kita beri nama Joko saja.”

“Ah, kurang keren. Bagaimana kalau Jacky?”

“Bagaimana kalau gabungan keduanya, Joko Sujeki. Bukankah lebih bagus lagi?”

Singkat cerita, pada akhirnya, mereka sepakat memberi nama Joko Sujeki buat Arjuna yang tidak diakui sebagai Arjuna ini.

***

Arjuna termenung sendiri di dalam kamarnya. Hatinya sedang kalut. Ia kehilangan dirinya sendiri: Arjuna yang dulu dipuja-puja jutaan orang kini telah dibuang oleh jutaan orang. Jutaan orang kini mengabaikan Arjuna atau bahkan menganggapnya telah tiada atau bahwa ada dan ketiadaannya tidak lagi dihiraukan. Kini mereka memaksanya untuk menjadi Joko Sujeki. Padahal Arjuna masih ada. Dialah Arjuna itu. Ini tentu sangat menyakitkan bagi Arjuna yang telah menjadi Arjuna selama puluhan tahun, sejak lahir sampai sekarang.

Sekali lagi, Arjuna sangat kalut. Rasanya ia ingin membunuh Joko Sujeki. Ia ingin mencekik lehernya sampai mati, lalu mencabik-cabik dagingnya, lalu membakarnya sampai menjadi abu, lalu abu itu akan dibuang ke laut selatan yang ganas. Tapi, membunuh Joko Sujeki berarti juga membunuh Arjuna. Artinya sama saja dengan bunuh diri. Jadi harus dicari cara bagaimana membunuh Joko Sujeki tanpa membunuh Arjuna.

***

Ribuan tahun setelah itu, Arjuna masih termenung sendiri di dalam kamarnya. Ia masih sibuk memikirkan cara untuk membunuh Joko Sujeki. Ia terus berpikir dan berpikir.

(dari Keputih sampai Robatal, Maret-April 2001)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s