Featured

Sekedap

Beberapa tahun lalu, ngeblog pernah menjadi sebuah gaya hidup. Tidak punya blog kesannya katrok bin goblog. Saya sendiri pernah aktif menulis di sebuah blog komunitas, tetapi belum pernah bikin blog sendiri. Nah, setelah bikin blog kurang begitu usum (musim) lagi, dan orang lebih suka nyetatus di facebook, cuit-cuit di twitter, atau narsis di instagram, lahirlah blog ini.

Hal-hal mengenai perbaikan tampilan dan penambahan konten, akan dilakukan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-sesingkatnya, tetapi  tetap sekober-kobernya. Jadi, sekedap nggih.

post

Advertisements

Kwie Tiau

Ini lelucon lama. Entah siapa yang kali pertama membuat, tapi saya mewarisinya dari ayah saya, lalu sedikit memodifikasinya. Ya, inilah lelucon tentang lelaki peranakan Cina yang menjadi mualaf. Namanya Kwie Tiau. Continue reading “Kwie Tiau”

Info Valid: 8 Ajaran Yang Harus Ditolak!

Umat Islam harus meningkatkan kewaspadaannya. Akhir-akhir ini banyak beredar ajaran dan istilah yang harus ditolak. Setidaknya ada dua alasan mengapa ajaran-ajaran dan istilah-istilah itu mesti diwaspadai dan ditolak. Pertama, karena tidak pernah diajarkan oleh Kanjeng Nabi dan tidak pernah disebut dalam kitab-kitab agama Islam. Sebagus apapun sebuah ajaran kalau tidak ada landasan dari Kanjeng Nabi harus ditolak. Kedua, karena ajaran atau istilah itu secara tidak langsung menuduh bahwa Islam tidak sempurna. Islam ya Islam saja titik. Tidak usah dipoles dengan bermacam-macam ide dan tradisi. Dan berikut ini adalah delapan ajaran atau istilah yang harus ditolak: Continue reading “Info Valid: 8 Ajaran Yang Harus Ditolak!”

Mamah Dedeh dan Islam Nusantara

Orang Jepang, sependek pengalaman saya pernah berinteraksi dengan mereka, sangat susah mengucapkan kata-kata yang diawali maupun diakhiri dengan huruf “L”. Huruf ini selalu terucapkan atau setidaknya terdengar oleh telinga saya sebagai “R”. Ketika mengucapkan “action plan”, misalnya, terdengar sebagai “aksyong prang”, bukan “eksyen plen”. Padahal si pengucap ini orang Jepang yang lancar berbahasa Inggris. Oleh karena itu saya sangat kagum dengan upaya sungguh-sungguh dari dua mualaf Jepang ini dalam mengucapkan dua kalimat syahadat dalam Bahasa Arab dengan fasih: melafalkan “L” sebagai “L”, bukan “R” (lihat video berikut: https://www.youtube.com/watch?v=bsdsVQXTJmM ). Bagaimana tidak sungguh-sungguh, wong Kyai Said Aqil Siradj yang membimbing kedua saudara kita ini bersyahadat, sudah memberikan wejangan bahwa Quran itu satu, di manapun tak ada perbedaan dan selama 15 abad tak pernah berubah, adzan itu di mana-mana sama, cara salat juga sama, dan tentu saja cara bersyahadat juga harus sama. Continue reading “Mamah Dedeh dan Islam Nusantara”

Mantenan 4.0

Paimah dan Paiman terlihat sumringah. Duduk di pelaminan yang megah nan indah, senyum mereka terus mengembang tak kunjung lelah. Di samping kanan-kiri mereka, orangtua-orangtua yang berwajah ramah. Begitu ada yang mengucapkan selamat, mereka segera sigap berdiri, tersenyum, lalu membalas: terima kasih, terima kasih. Continue reading “Mantenan 4.0”

Makan Dulu atau Salat Dulu?

Gambar: http://www.dailymoslem.com

Pernahkah Anda dihadapkan pada pilihan mendahulukan makan atau mendahulukan salat? Bagi orang kantoran, pilihan ini biasanya muncul saat istirahat siang: waktunya makan, waktunya salat zuhur juga. Pilihan tersebut memang terkadang terasa dilematis. Mendahulukan makan berarti menomorduakan salat. Makan adalah perbuatan duniawi, profan, sementara salat adalah ibadah ukhrawi, perintah Allah. Masak perintah Allah harus ditundukkan oleh kebutuhan duniawi? Tetapi kalau pilihannya salat dulu, pikiran bisa melayang ke makanan mulai dari saat takbiratul ihram sampai salam. Continue reading “Makan Dulu atau Salat Dulu?”

Bahasa dan Keadilan dan Kecerdasan Pikiran

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”, demikian kurang lebih pesan yang ditujukan kepada Minke, tokoh utama dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Berangkat dari pesan yang amat berat untuk dilaksanakan ini, mari menelanjangi bahasa yang biasa kita pakai. Apakah bahasa tersebut, kata-kata yang acap kita gunakan, sudah cukup membuat pikiran kita lumayan adil? Sebab bahasa tidak hanya menjadi alat untuk menyatakan isi pikiran, tetapi ia juga turut membentuk pikiran itu sendiri. Continue reading “Bahasa dan Keadilan dan Kecerdasan Pikiran”

Kentut

Kentut, begitulah angin yang keluar dari sela-sela pantat ini lazim disebut. Oleh banyak orang ia dianggap menjijikkan. Ia bisa tidak berbau, sekaligus bisa berbau sangat busuk, tergantung dari situasi dan kondisi perut. Tapi yang jelas belum pernah terdengar ada kentut yang berbau harum. Meski dianggap menjijikkan, ia adalah kewajiban-kodrati setiap manusia, tanpa pandang bulu yang mana pun. Meski tidak diberitakan dalam acara-acara infotaintment dan gosip di tipi-tipi dan tidak pernah dimunculkan di media-media (a)sosial, para selebritis yang cantik-cantik dan tampan-tampan itu pasti pernah kentut juga. Dan gara-gara nggak bisa kentut, tetangga saya di kampung menjual sawahnya untuk berobat. Jadi di samping kewajiban-kodrati, kentut juga merupakan kebutuhan asasi.
Continue reading “Kentut”