Featured

Sekedap

Beberapa tahun lalu, ngeblog pernah menjadi sebuah gaya hidup. Tidak punya blog kesannya katrok bin goblog. Saya sendiri pernah aktif menulis di sebuah blog komunitas, tetapi belum pernah bikin blog sendiri. Nah, setelah bikin blog kurang begitu usum (musim) lagi, dan orang lebih suka nyetatus di facebook, cuit-cuit di twitter, atau narsis di instagram, lahirlah blog ini.

Hal-hal mengenai perbaikan tampilan dan penambahan konten, akan dilakukan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-sesingkatnya, tetapi  tetap sekober-kobernya. Jadi, sekedap nggih.

post

Menunggu Kamu

Siang itu memang bukan kali pertama saya menyanyi di depan orang banyak, tapi baru siang itulah nyanyian saya terdengar cukup bagus. Tahun 80-an saya cukup aktif tampil bernyanyi di depan banyak orang: di depan kelas, di depan teman-teman Sekolah Dasar, waktu pelajaran Seni Suara. Guru kami waktu itu punya cara jenius untuk menghabiskan 1,5 jam pelajaran. Satu per satu murid disuruh menyanyi di depan kelas. Saya biasa menyanyikan Desaku yang Tercinta atau Bagimu Negeri. Maklum hanya lagu itu yang bisa saya nyanyikan. Teman-teman lain tak jauh berbeda dengan saya. Maka demikianlah, setelah 30 murid menyanyi, habislah jam pelajaran. Continue reading “Menunggu Kamu”

Ada Apa dengan 12 Rabiul Awal?

Sebuah infografis muncul dalam sebuah grup whatsapp yang saya ikuti. Diawali dengan pertanyaan “Ada apa dengan 12 Rabi’ul Awwal?”, infografis tersebut kemudian menceritakan Sayyidina Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan lain-lain yang menangis sedih karena wafatnya Baginda Nabi. Lalu ada pertanyaan lanjutannya: “Lalu pantaskah engkau berbahagia?”. Saya pun tertarik menanggapi pertanyaan-pertanyaan ini. Biasanya, sebagaimana pengalaman pribadi saya, pencetus pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan dinilai kritis, ilmiah, dan nyunnah, sementara yang menanggapi akan segera mendapat nasihat: jangan terlalu mendiskusikan hukum Islam dan hal-hal furu’iyah lainnya. Baiklah.

Continue reading “Ada Apa dengan 12 Rabiul Awal?”

Info Valid: 8 Ajaran Yang Harus Ditolak!

Umat Islam harus meningkatkan kewaspadaannya. Akhir-akhir ini banyak beredar ajaran dan istilah yang harus ditolak. Setidaknya ada dua alasan mengapa ajaran-ajaran dan istilah-istilah itu mesti diwaspadai dan ditolak. Pertama, karena tidak pernah diajarkan oleh Kanjeng Nabi dan tidak pernah disebut dalam kitab-kitab agama Islam. Sebagus apapun sebuah ajaran kalau tidak ada landasan dari Kanjeng Nabi harus ditolak. Kedua, karena ajaran atau istilah itu secara tidak langsung menuduh bahwa Islam tidak sempurna. Islam ya Islam saja titik. Tidak usah dipoles dengan bermacam-macam ide dan tradisi. Dan berikut ini adalah delapan ajaran atau istilah yang harus ditolak: Continue reading “Info Valid: 8 Ajaran Yang Harus Ditolak!”

Mamah Dedeh dan Islam Nusantara

Orang Jepang, sependek pengalaman saya pernah berinteraksi dengan mereka, sangat susah mengucapkan kata-kata yang diawali maupun diakhiri dengan huruf “L”. Huruf ini selalu terucapkan atau setidaknya terdengar oleh telinga saya sebagai “R”. Ketika mengucapkan “action plan”, misalnya, terdengar sebagai “aksyong prang”, bukan “eksyen plen”. Padahal si pengucap ini orang Jepang yang lancar berbahasa Inggris. Oleh karena itu saya sangat kagum dengan upaya sungguh-sungguh dari dua mualaf Jepang ini dalam mengucapkan dua kalimat syahadat dalam Bahasa Arab dengan fasih: melafalkan “L” sebagai “L”, bukan “R” (lihat video berikut: https://www.youtube.com/watch?v=bsdsVQXTJmM ). Bagaimana tidak sungguh-sungguh, wong Kyai Said Aqil Siradj yang membimbing kedua saudara kita ini bersyahadat, sudah memberikan wejangan bahwa Quran itu satu, di manapun tak ada perbedaan dan selama 15 abad tak pernah berubah, adzan itu di mana-mana sama, cara salat juga sama, dan tentu saja cara bersyahadat juga harus sama. Continue reading “Mamah Dedeh dan Islam Nusantara”

Mantenan 4.0

Paimah dan Paiman terlihat sumringah. Duduk di pelaminan yang megah nan indah, senyum mereka terus mengembang tak kunjung lelah. Di samping kanan-kiri mereka, orangtua-orangtua yang berwajah ramah. Begitu ada yang mengucapkan selamat, mereka segera sigap berdiri, tersenyum, lalu membalas: terima kasih, terima kasih. Continue reading “Mantenan 4.0”

Makan Dulu atau Salat Dulu?

Gambar: http://www.dailymoslem.com

Pernahkah Anda dihadapkan pada pilihan mendahulukan makan atau mendahulukan salat? Bagi orang kantoran, pilihan ini biasanya muncul saat istirahat siang: waktunya makan, waktunya salat zuhur juga. Pilihan tersebut memang terkadang terasa dilematis. Mendahulukan makan berarti menomorduakan salat. Makan adalah perbuatan duniawi, profan, sementara salat adalah ibadah ukhrawi, perintah Allah. Masak perintah Allah harus ditundukkan oleh kebutuhan duniawi? Tetapi kalau pilihannya salat dulu, pikiran bisa melayang ke makanan mulai dari saat takbiratul ihram sampai salam.

Continue reading “Makan Dulu atau Salat Dulu?”